Good News Pematang Siantar – Uci Ambarita

Pulih karena Mencari Tuhan

Mengampuni bukanlah hal mudah, apalagi jika suatu hubungan sudah begitu keruh dan segala sesuatu di dalamnya tampak negatif. Namun, hal ini tidak mustahil bagi Uci, seorang saudari yang mau mencari Tuhan dalam kesesakan hidupnya.

Uci, anak bungsu dari dua belas bersaudara, adalah sosok yang mudah bergaul, humoris, dan terbuka, tetapi berkarakter keras dan emosional. Ketidakharmonisan dalam pernikahannya mendorong Uci untuk kembali sementara ke Siantar demi menghindari konflik berkepanjangan. Ia pun membagi peran pengasuhan kedua anaknya dengan sang suami.

Banyaknya masalah dalam rumah tangga membentuk Uci menjadi seseorang yang mudah marah, sensitif, dan cenderung berpikir negatif. Hal ini pun berpengaruh terhadap relasinya dengan orang lain. Uci menghadapi perseteruan dengan salah seorang saudara kandungnya dan lama tidak saling berkomunikasi karena ada kebencian mendalam di hatinya.

Di balik semua masalah itu, ada hikmat yang membawa Uci untuk datang kepada Tuhan. Ia mulai sering berdoa dan terlibat banyak kegiatan rohani. Dalam pergumulannya, Uci meminta agar dapat dipertemukan dengan orang yang mendekatkan dirinya kepada Tuhan.

Doa Uci terjawab lewat seorang saudari dalam jemaat Siantar, yang ternyata adalah teman sekolahnya waktu SMP. Saudari yang baru pindah ke Siantar ini bergabung dalam grup alumni sekolah, dan di sanalah mereka kembali menjalin pertemanan.

Setelah beberapa waktu, Uci menyatakan kesediaannya untuk belajar Alkitab. Sifat terbuka dan hati yang ingin berubah membuat ia mudah menerima firman Tuhan. Uci sangat antusias dalam setiap pelajaran dan yakin bahwa pertemuan dengan murid-murid Yesus ini adalah jawaban atas doa-doanya.

Selama proses belajar, tantangan terberat Uci adalah mengampuni orang yang pernah menyakiti atau pernah bermasalah dengannya. Sejak awal, Uci menegaskan bahwa ia tidak akan meminta maaf kepada saudara kandungnya. Namun, ketika memasuki topik pertobatan dan belajar bagaimana ia harus mengampuni sesuai firman Tuhan, Uci tersentuh dan menangis. Ia sadar bahwa dengan menolak mengampuni orang lain selama ini berarti ia telah menyakiti hati Tuhan.

Saat itu juga, Uci langsung mengambil tindakan: ia meminta maaf kepada saudaranya lewat telepon. Sungguh luar biasa melihat bagaimana kesungguhan hatinya untuk bertobat dan berdamai dengan sesama memampukan Uci untuk memaafkan dan meminta maaf. Ia bahkan menghubungi satu persatu orang-orang yang pernah berselisih dengannya untuk melakukan hal tersebut.

Tanggal 14 Februari 2019, Uci mengambil keputusan untuk bertobat dan dibaptis. Ia sangat bersukacita karena hidupnya dipulihkan, serta menjadi pribadi yang lebih tenang dan lebih positif dalam menghadapi segala sesuatu. Sekalipun hubungan pernikahannya masih dalam proses rekonsiliasi, Uci terus berjuang dan berdoa untuk keluarganya.

“Hal yang paling saya syukuri adalah bahwa hidup saya boleh dipulihkan, diberi pengampunan, dan dilayakkan,” ungkap Uci. “Meskipun masih bergumul dengan berbagai masalah, Tuhan memberi kelegaan dan kedamaian dalam jiwa saya. Banyak doa saya yang dikabulkan ketika saya mau datang mencari Tuhan.”

Hingga hari ini, Uci aktif melayani di KKK (Kerajaan Kanak-Kanak) dan menyumbangkan talenta bernyanyinya dalam kegiatan ibadah. Ia punya kerinduan untuk lebih banyak dipakai dalam kerajaan Tuhan. Semoga Uci terus bertumbuh dalam iman dan bersemangat menjalani kehidupan sebagai murid Yesus. Kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Maksimalkan Potensi Firman Tuhan dalam Hidup Anda

Video inspirasi: