Good News Jemaat Surabaya – Stephanie

Stephanie Handoyo adalah lulusan Northeastern University, Boston, jurusan bisnis. Setelah lulus, wanita kelahiran 1990 ini sempat berkarier di Amerika Serikat selama tiga tahun. Saat itu, ia menganggap orang-orang Kristen tampak baik dan rohani dari luar, tetapi hidup mereka jauh dari citra yang diperlihatkan. Karenanya, Stephanie tidak tertarik menjadi seorang Kristen.

Tahun 2016, Stephanie kembali ke tanah air. Ia melihat potensi karier yang menjanjikan di Indonesia, serta keinginannya berkontribusi dalam human capital dan perekonomian lokal. Setelah setahun bekerja sebagai manajer di perusahaan teknologi finansial di Jakarta, Stephanie pulang ke Surabaya untuk membantu perusahaan keluarganya.

Melalui seorang teman, Stephanie berkenalan dengan GEM Community. Karena tertarik dengan topik-topik yang dibahas serta dinamika dalam komunitas tersebut, Stephanie pun diperkenalkan dengan GKDI Surabaya.

Ketika menghadiri kebaktian, Stephanie berkenalan dengan Bu Alin, istri pendeta Jonson Sibuea. Berawal dari diskusinya dengan Bu Alin mengenai pertemanan yang sehat dan benar menurut Alkitab, Stephanie lanjut belajar Alkitab. Karena sering menerima keluhan dari teman-teman, orang tua, adik-adik, serta para karyawannya mengenai karakternya, Stephanie memutuskan mendalami firman agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Selama delapan bulan belajar, Stephanie semakin jatuh hati dengan Allah. Banyak hal yang dulu tidak ia pahami kini menjadi jelas. Tantangan terberat Stephanie adalah saat harus belajar menguasai diri, bersabar, menghargai pendapat orang lain, mengurangi debat, dan tunduk pada perintah Allah. Melihat betapa jauh dirinya dari standar firman, Stephanie sempat ragu apakah ia bisa bertobat.

Namun, Stephanie dituntun menjalani setiap proses untuk mengalahkan sifat-sifat buruk yang sudah mendarah daging. Empat bulan ia berjuang mengalahkan kelemahan-kelemahannya dan sempat gagal beberapa kali. Tidak menyerah, Stephanie terus mencari nasihat, berdoa, bahkan membaca firman beberapa kali sehari agar dapat memenangkan pergumulannya.

Pada 20 Oktober 2018, Stephanie memantapkan diri untuk dibaptis. Ia bersyukur boleh mengenal Kristus, mengerti firman lebih dalam, dan punya hubungan yang lebih pribadi dengan Tuhan. Stephanie merasa diberkati dengan adanya komunitas beranggotakan orang-orang yang saling menjaga, menegur, dan menolongnya untuk bertumbuh. Bukan hanya secara rohani, tetapi juga di dunia.

Kini Stephanie punya impian agar hidupnya dapat dipakai Tuhan. Ia ingin berguna bagi orang lain dan menjadi pengaruh yang baik dalam persahabatannya, keluarganya, pekerjaannya, dan di mana pun ia berada. Stephanie juga ingin menolong para profesional dari generasi milenial untuk mengenal kebenaran firman Allah.

Dari sosok yang bertabiat keras, Stephanie berubah menjadi orang yang sabar. Yang dulu merasa hanya bisa belajar dari orang-orang pintar dan sukses saja, ia menjadi pribadi yang rendah hati. Mau belajar dari orang-orang yang, meski tidak lebih pintar atau sukses secara duniawi daripada dirinya, memiliki hidup yang mengasihi Tuhan. Stephanie juga dapat menerima orang lain tanpa melihat suku, pendidikan, atau penampilan. Ia akhirnya paham bagaimana menggunakan kemauannya yang keras dengan benar, seturut firman, sebagai bagian dari komitmennya mengikut Tuhan.