Belajar Mengampuni Orang Tua

Terlahir sebagai anak tunggal tak menjamin seseorang akan melalui masa kanak-kanak yang indah. Rachel kecil tumbuh sembari melihat pertengkaran orang tuanya dan tidak punya kenangan manis bersama mereka. 

Selain tak kenal kompromi, didikan ayah-ibunya sering diwarnai kekerasan verbal dan nonverbal. Ayahnya menetapkan jam malam yang ketat dan tidak menerima keterlambatan dengan alasan apa pun. Pernah, hanya gara-gara terlambat pulang usai mengerjakan tugas kelompok, Rachel diberi hukuman fisik di depan teman-temannya. 

Ibu Rachel, yang menderita akibat masalah rumah tangga, juga sering melampiaskan kekesalannya kepada Rachel dengan kata-kata yang menyakitkan. Bahkan, beliau pernah berkata tidak peduli jika sesuatu menimpa anaknya.

Kenangan-kenangan pahit semasa kecil membuat Rachel berjanji dalam hati untuk tidak akan bergantung kepada siapa pun, kecuali diri sendiri. Rachel tumbuh menjadi orang yang sangat pahit terhadap orang tuanya. Ia membenci mereka dan tidak bisa memaafkan perbuatan mereka. 

Hingga dewasa, rasa benci itu kian menguat. Rachel, yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan ternama, tinggal jauh dari keluarga. Suatu kali, dalam ibadah Minggu, pendeta di gerejanya menyampaikan khotbah tentang pengampunan. Merasa tertusuk dengan tema tersebut, Rachel berhenti pergi ke gereja, lantaran tahu harus mengampuni orang tuanya sesuai ajaran Yesus, tetapi tak mampu melakukannya.

Setelah lebih dari setahun meninggalkan ibadah, Rachel diam-diam berdoa. Ia merasa tersesat, tidak tahu bagaimana cara untuk kembali memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Bulan November 2018, seorang saudari bernama Titin mengundangnya datang beribadah. Rachel, yang menerima ajakan Titin karena sungkan, akhirnya mengikuti dua kali ibadah. Namun, ia berencana menjadikan ibadah keduanya sebagai yang terakhir dan tidak akan datang lagi setelahnya.

Tak disangka, khotbah dalam ibadah kedua itu menggugah hati Rachel. Pengkhotbah hari itu berkata, “Bukanlah suatu kebetulan jika Anda masuk ke sebuah komunitas baru, bertemu dengan orang-orang baru. Tuhan pasti punya rencana. Maka, jangan terburu-buru memutuskan pergi sebelum mencari tahu apa rencana Tuhan.”

Usai ibadah, Rachel langsung menyampaikan permohonan untuk mendalami firman Tuhan. Ia penasaran pada apa yang bisa ia dapatkan dari komunitas ini, serta apa rencana Tuhan dalam hidupnya. 

Demikianlah, pada 6 Januari 2019, Rachel kembali melanjutkan pelajaran Alkitabnya. Ketika belajar tentang salib Kristus, Rachel merasa hancur. Ia malu karena penderitaan yang dialaminya ternyata tak sebanding dengan apa yang Yesus alami. Rachel, yang merasa dirinya orang yang paling menderita sedunia, merasa berhak membenci orang-orang yang menyakitinya. Sebaliknya, Yesus, yang punya kuasa untuk membalas dan melawan, memilih tidak menggunakan kuasa-Nya untuk itu.

Di titik itulah, Rachel sadar betapa tidak bijaknya ia jika terus menyimpan kebencian terhadap orang tuanya. Pelajaran salib Yesus menjadi sebuah tamparan keras yang menyadarkan Rachel tentang arti pengampunan.

Walaupun proses pertobatannya memakan waktu, Rachel akhirnya mampu menghubungi ayahnya untuk meminta maaf karena memendam benci sedemikian lama terhadap beliau. Dan, kepada ibunya, Rachel mengatakan bahwa ia mencintainya. Lega bukan main—itulah yang dirasakan Rachel setelah menuntaskan pertobatannya. Beban dosa kebencian yang selama ini memberatkan hidupnya terlepas setelah ia meminta maaf.

Sejumlah masalah yang dulu tampak negatif juga menjadi lebih jernih dalam pandangannya. Rachel belajar bahwa penyebab rasa benci terhadap orang tuanya adalah karena ia terlalu berfokus dengan kebutuhan dan harapannya kepada mereka. Ia hanya memusatkan diri pada kekurangan ayah-ibunya, tetapi lupa melihat kebaikan mereka. Sudut pandang baru ini membuat Rachel sadar bahwa ibunya adalah orang yang peduli dan bertanggung jawab terhadap keluarga.

Tanggal 5 Mei 2019, Rachel memutuskan untuk hidup sebagai murid Yesus. Ia sadar dirinya takkan pernah tahu kapan kematian datang menjemput. Karenanya, ia tidak mau melewatkan kesempatan emas tersebut. Rachel, yang sebelumnya tak pernah memikirkan soal iman, bersedia memulai pertandingan imannya dengan serius.

Rachel sangat bersyukur karena pendalamannya akan firman Tuhan ternyata sanggup mengubah hidup dan pola pikirnya. Caranya memandang segala sesuatu juga menjadi lebih dalam. Dan, ia ingin terus melayani, menolong orang lain mengenal Tuhan, serta memiliki semua buah roh dalam Galatia 5:22-23. Amin!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Memaafkan Secepatnya

Video inspirasi: