Berjuang Bangun Hidup Baru untuk Yesus yang Telah Berjuang Baginya

Masa kecil Hodlin, pria kelahiran Padang tahun 1986 ini, merupakan masa yang indah. Ia selalu dimanja oleh orang tuanya, dan apa pun yang diinginkannya pasti dikabulkan. Nilai-nilai akademisnya cemerlang, sehingga Hodlin selalu meraih salah satu peringkat terbaik di SD dan SMP. Tak hanya itu, anak ke-4 dari lima bersaudara ini juga pandai bermain sepak bola. Ayahnya, yang berharap kelak Hodlin bisa menjadi atlet yang terkenal, mendaftarkannya ke sebuah sekolah sepak bola ternama di Surabaya. 

Dengan bakat dan kerja keras, Hodlin berhasil menorehkan sejumlah prestasi di dunia sepak bola. Akan tetapi, untuk bermain dalam tim inti, Hodlin harus memberikan uang pelicin yang tak sedikit jumlahnya kepada oknum-oknum tertentu. Karena ayahnya menolak  memberi suap, sejak saat itu, Hodlin hanya duduk di bangku cadangan. Ini membuatnya kehilangan semangat bermain sepak bola dan akhirnya keluar dari sekolah tersebut. 

Kecewa terhadap sang ayah yang ia anggap tidak mendukung mimpinya, Hodlin mulai jarang pulang ke rumah. Memasuki SMA, dalam periode pencarian jati diri, Hodlin mencari perhatian dan pengakuan dari luar. Pergaulan buruk dan pemahaman yang keliru membuat Hodlin hanya mau berteman dengan anak-anak dari kalangan berada untuk mendapatkan kepopuleran. Ia menjadi anak paling nakal di sekolah, terlibat tawuran, dan mulai mengenal narkoba.

Dari coba-coba, Hodlin akhirnya kecanduan. Saat kuliah di salah satu universitas bergengsi di Surabaya, ia mengonsumsi berbagai jenis narkoba. Kuliahnya berantakan, dan satu semester kemudian, ia drop out. Dikelilingi pergaulan yang semakin buruk, Hodlin mulai memakai obat-obatan terlarang berdosis tinggi. Di usianya yang ke-25, ia sempat menjadi pengedar bersama teman-temannya, berjudi, dan memiliki utang besar hingga urusannya melibatkan pihak keluarga.

Tahun 2014, Hodlin diasingkan ke Kalimantan oleh keluarganya. Tujuannya agar ia dapat meninggalkan pergaulan yang buruk. Setahun kemudian, ia kembali ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja di sebuah kantor pengacara. Didorong keinginan untuk mengenal Tuhan lebih dalam, ia mulai rajin pergi ke gereja, setelah hampir 15 tahun tidak pernah beribadah. 

Namun, karena kembali bertemu dengan teman-teman lamanya, komitmen Hodlin untuk hidup benar hanya bertahan beberapa bulan. Bahkan, ketika sedang mencari komunitas yang bisa membawanya kepada Tuhan, ia justru bertemu sesama pecandu. Akhirnya, ia kembali terjerat dalam obat-obatan terlarang.

Situasi ini membuat Hodlin hidup dalam dilema yang membingungkan. Ia beribadah, tapi tetap melayani kecanduannya. Apalagi, ia melihat bagaimana pembimbing rohaninya sendiri tidak bisa lepas dari minum-minuman keras dan rokok.

Pada Oktober 2018, ketika menginap di rumah Daniel, sepupunya yang telah menjadi murid Yesus, Hodlin ikut beribadah bersamanya. Saat itulah, sebuah kalimat dari si pengkhotbah terngiang-ngiang dalam benaknya: 

“Saya tidak lebih baik dari kalian. Mari kita sama-sama berjuang” 

Kata-kata itu membuat Hodlin terheran-heran. Bukankah seorang pengkhotbah itu identik dengan kekudusan dan bersih dari dosa? Mengapa pengkhotbah ini mengatakan bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang lain?

Penasaran akan hal tersebut, Hodlin akhirnya belajar firman Tuhan selama tiga bulan. Namun, pembelajarannya berhenti akibat banyaknya masalah dan cobaan hidup. Hodlin pun memutuskan untuk tidak lagi ke gereja. Ia kembali ke komunitas lamanya dan bergaul dengan para pecandu. 

Di titik terendah dalam hidupnya itu, Hodlin rutin menggunakan zat-zat adiktif. Setiap bangun tidur, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana ia bisa mengonsumsi obat-obatan terlarang. Hodlin menyalahkan orang tuanya sebagai penyebab semua kekacauan dalam hidupnya. Setiap kali sakau, ia akan minta uang kepada mereka. Ia juga bersikap paranoid dan tidak percaya kepada siapa pun. 

Bulan Maret 2019, ketika sepupunya Daniel meninggal secara tiba-tiba, Hodlin kembali bertemu dengan jemaat Surabaya. Kala itu, seorang brother menghampirinya dan berkata bahwa mereka ingin ia melanjutkan pendalaman firman Tuhan. 

Tiga minggu kemudian, Hodlin kembali belajar Alkitab—kali ini, dengan hati yang hancur. Ia habiskan sebagian besar waktunya untuk berkumpul bersama brother, baik saat sedang sakau maupun sadar. Tak pernah ia membiarkan dirinya sendirian supaya ia tidak terjerumus lagi ke dalam kecanduan.

Terlebih, Hodlin belajar untuk melihat teladan salib, bagaimana Yesus telah berjuang untuk menebus dosa-dosanya. Ia yakin bahwa jika Yesus mampu melewati semua itu, ia pasti juga bisa melakukannya. Meskipun mengalami jatuh-bangun selama proses belajar Alkitab, pada 19 Oktober 2019, setelah membuktikan pertobatannya, Hodlin dibaptis. 

Kini Hodlin memiliki pengendalian emosi yang baik; ia lebih sabar, bisa merespon masalah dengan bijak, dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Impiannya adalah agar orang-orang yang terjebak narkoba seperti dirinya, yang merasa tak ada lagi harapan bagi hidup mereka, bisa mengenal Tuhan. Karena, di dalam Tuhan, pengharapan kita tidak akan mengecewakan. Amin!

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. – Roma 5:5,8