Good News Jemaat Siantar – Serli

Tanggal 9 Desember 2018 merupakan hari yang sangat spesial bagi Serli. Pada hari itu, wanita lulusan sastra Inggris salah satu universitas di Pematang Siantar ini mengambil keputusan menjadi Murid Yesus.

Sewaktu kecil, Serli adalah pribadi yang pendiam dan pemalu, sehingga sering diganggu dan ditindas anak-anak lain. Hal ini berlangsung hingga ia duduk di bangku SMP. Serli tak punya teman dan kerap diperlakukan tidak adil oleh teman-teman sekolah dan gurunya.

Sejak SD, Serli sudah menyukai hal-hal rohani, bahkan sempat belajar cara berkhotbah. Di SMP dan SMK, ia terlibat dalam berbagai organisasi seperti Pramuka dan PKS (Patroli Keamanan Sekolah). Ini membuatnya tumbuh menjadi anak yang pemberani, percaya diri, dan pekerja keras. Selain meraih prestasi akademik cemerlang di sekolah, Serli juga tidak segan-segan bekerja mencuci pakaian di rumah tetangga untuk mendapatkan uang jajan.

Memasuki bangku kuliah, Serli aktif sebagai pengurus salah satu persekutuan mahasiswa di kampusnya dan sempat menjabat sebagai ketua. Waktu dan tenaga ia curahkan untuk kuliah dan pelayanan. Setiap hari, Serli pulang larut malam demi memastikan keadaan adik-adik rohaninya yang berjumlah puluhan. Semua ia lakukan karena cintanya kepada Tuhan.

Setelah lulus, Serli merintis sebuah pelayanan di salah satu perguruan tinggi Siantar. Memulai sesuatu, apalagi di tempat baru, bukanlah hal yang mudah, tetapi ia berhasil melakukannya. Saat itulah, dalam salah satu kegiatan pelayanan, Serli berkenalan dengan seorang sister.

Keduanya menjalin komunikasi selama lima bulan lewat chatting. Ketika mengikuti hangout grup single, Serli merasakan ada yang berbeda dengan komunitas tersebut. Setelah mencoba mengikuti ibadah dan spend time dengan beberapa sister, pada akhir Februari 2018, Serli mulai belajar Alkitab.

Awalnya Serli tak punya kendala dalam mengikuti setiap topik. Ia rutin mengikuti diskusi Alkitab dan ibadah Minggu. Setiap tantangan yang diberikan terlihat gampang saja ia lakukan, seperti berdoa, saat teduh setiap hari, bahkan menginjil. Serli selalu bisa menerima kebenaran Tuhan tanpa penyangkalan, karena pada dasarnya ia memiliki hati yang lembut dan rindu dekat dengan Tuhan.

Memang, terkadang muncul pertanyaan dalam hatinya. “Apakah hanya gereja ini saja yang paling benar?” Namun, pemikiran ini wajar karena sebelumnya Serli sudah punya pengetahuan tentang Alkitab.

Pendalaman Alkitab yang ia jalani kemudian membuka pola pikirnya, terutama tentang pelayanan. Ia mulai paham apa arti pelayanan yang sesuai firman Tuhan. Bahwa pelayanan bukan hanya suatu kegiatan, melainkan juga sarana untuk memastikan agar kita tetap hidup benar.

Inilah salah satu pergumulan terberat Serli. Ia menyadari bahwa selama ini ia sering melakukan hal-hal yang tidak sesuai firman Tuhan. Sebagai seorang yang aktif dalam pelayanan, Serli merasa perlu memurnikan hati dalam melayani. Apalagi, ia mengakui, mulai ada rasa tidak nyaman saat menghadiri setiap pertemuan di persekutuan kampus.

Di sisi lain, meskipun tahu harus melepaskan pelayanan yang dirintisnya, Serli takut pada pendapat orang lain dan ingin tetap menjaga citranya sebagai pelayan. Terlebih, ia tidak sanggup melepaskan adik-adik rohani yang sangat ia sayangi. “Banyak orang masuk ke persekutuan itu berkat ajakan saya,” katanya. “Bagaimana mungkin malah saya yang mengundurkan diri sekarang?”

Sebelas bulan lamanya Serli bergelut dengan keputusan menjadi Murid Yesus. Dalam kurun tersebut, ia membawa pergumulannya dalam doa dan terus mau dibantu. Ia tetap datang beribadah dan tidak lantas menjauhkan diri dari komunitas. Dan, berkat doa murid-murid lain, ia pun berhasil memantapkan hati untuk sepenuhnya mengikuti Kristus.

“Tuhan tidak melihat seberapa banyak pelayanan saya, tetapi bagaimana hati saya,” ungkap Serli. “Betapa buruk yang saya lakukan dulu. Hidup dalam pelayanan, tetapi tidak punya motivasi  benar di dalam Tuhan.”

Serli merasakan ada banyak perubahan dalam dirinya setelah belajar Alkitab. Ia semakin mengenal Tuhan, lebih terbuka ketika menghadapi masalah, berpikir positif, dan tidak menyombongkan pencapaian pelayanannya.

Perubahan ini juga dirasakan oleh beberapa teman dekatnya. Bahkan ada anak-anak bimbingan Serli dulu yang terinspirasi olehnya dan lebih dulu menjadi Murid. Salah satunya adalah Marta, seorang saudari yang mengambil keputusan menjadi Murid Yesus pada 10 November 2018.

“Bukan hal mudah bagi saya untuk menjadi Murid, tetapi Tuhan datang menguji saya lewat setiap masalah. Saya sangat bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan atas setiap masalah yang Dia izinkan terjadi dalam hidup saya—yang membuat saya semakin dewasa dan cinta kepada-Nya.”

Hari ini, berkat semangat penginjilan Serli, banyak orang sedang belajar firman. Semoga Serli terus bertumbuh dan dipakai Tuhan dengan luar biasa, agar melalui hidupnya, banyak yang dimenangkan menjadi Murid Yesus. Kemuliaan hanya bagi Tuhan. Amin.