Lahir dari keluarga yang tidak harmonis membentuk Friska Silaban menjadi pribadi yang keras, gampang marah, tidak pernah puas, dan pahit. Friska menaruh harapan tinggi pada diri sendiri, terutama dalam pencapaian akademis dan karier.

Kurangnya kedekatan hubungan dalam keluarga membuat Friska bosan dan tidak nyaman tinggal di rumah. Ia pun memutuskan mengambil gelar S-2 di Taiwan. Meskipun ini menjadi jalan keluarnya untuk menghindari keluarga, di sisi lain, Friska sangat peduli dengan mutu pendidikan Indonesia.

Setelah menyelesaikan studi, Friska kembali ke Siantar untuk bekerja sebagai guru. Namun, pekerjaan itu tidak sesuai harapannya, baik dari segi pencapaian pribadi maupun penghasilan. Kecewa dengan semua itu, Friska jadi mudah emosi, sering mengeluh, dan dibebani ambisi.

Inilah titik di mana Friska menyerah dan berkata, “Saya ingin belajar bagaimana hidup baik dan benar di dalam Tuhan. Matius 6:33 mengingatkan saya, ‘Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’.”

Pada 19 Februari 2018, Friska membuka diri untuk belajar firman Tuhan. Ini juga berkat doa seorang sister lima tahun lalu agar Friska mau mengenal Allah. Selama belajar, Friska menemui banyak tantangan, seperti kurangnya waktu, kesibukan, dan pergumulan dalam pekerjaan. Ia juga sering mengandalkan pemahamannya sendiri.

Namun, Friska terus berdoa, percaya, dan menaati firman. Kasih jemaat yang tidak henti-hentinya mendoakan dan spend time dengannya melembutkan hati Friska. Apa yang membuat ia berubah adalah kerinduannya yang besar untuk menjalani hidup sesuai standar Tuhan, bukan standarnya.

Akhirnya, pada 17 Juni 2018, Friska memberi diri dibaptis dan masuk Singles Ministry. Ia sangat bersyukur bisa menjadi Murid Yesus dan merasakan banyak perubahan dalam dirinya. Ia lebih aware dengan dosa, tidak sombong, mampu menyangkal diri, dan lebih positif dalam segala hal.

Perubahan Friska juga dirasakan oleh keluarganya. Meski kondisi kariernya belum mendekati harapan, Friska tidak menyikapinya secara negatif seperti dulu. Justru, hal itu membuatnya lebih rendah hati dan bersyukur dalam segala hal. Tidak lagi mengukur pencapaiannya berdasarkan profesi dan tingkat pendidikan.

Semua orang yang mengenal Friska kini melihat bagaimana ia jauh lebih bahagia dan penuh syukur. Friska mulai terlibat dalam pelayanan Usher di ibadah Minggu dan ingin teman-temannya juga bisa belajar firman. Semoga Friska terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan dipakai bagi perluasan kerajaan-Nya dengan cara luar biasa. Kemuliaan hanya bagi Allah. Amin.