Menikmati Hidup Benar dan Murni di dalam Tuhan

Merasakan hidup yang penuh sukacita, sekaligus hidup yang bisa dinikmati dengan sikap luwes dan sabar kelihatannya merupakan sesuatu yang mustahil. Namun, hal ini dialami sendiri oleh saudari kita, Dessy, seorang guru yang menjadi murid Yesus pada Oktober 2019.

Dessy, anak ketiga dari lima bersaudara, dibesarkan oleh ayah yang otoriter, serta ibu yang kuat tetapi kurang menunjukkan kepedulian. Tidak adanya komunikasi yang sehat membuat para anggota keluarganya bersikap cuek terhadap satu sama lain. 

Sewaktu Dessy kelas 5 SD, ayahnya meninggal dunia. Ibunya lalu menjadi depresi dan jatuh sakit. Saat Dessy duduk di bangku kuliah, ibunya sempat kehilangan kesadaran, kadang bisa mengomel atau bicara sendiri. Terkadang beliau juga tidak mengenali anak-anaknya. Situasi sulit serta tanggung jawab untuk menjaga ibunya membentuk Dessy menjadi pribadi yang pendiam, kaku, mudah marah.

Memasuki semester tiga perkuliahan, Dessy mengenal beberapa sisters dari Jemaat Pematangsiantar yang satu kelas dengannya. Ia merasa nyaman bersahabat dengan mereka, karena mereka bersikap apa adanya. Seiring waktu, Dessy mulai diperkenalkan dengan komunitas murid Yesus, hingga akhirnya mau belajar Alkitab. 

Awalnya Dessy menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Bahkan saking semangatnya, dengan antusias ia menyampaikan keinginannya untuk dibaptis kepada ibunya. Apa daya, beliau tidak setuju ia belajar Alkitab. Ini membuat semangatnya menyurut, dan ia pun menjauh dari komunitas.

Pada masa itu, Dessy menjalin hubungan spesial dengan seorang teman kuliah. Namun, hubungan pacaran yang tidak sehat membuatnya tak bahagia. Dessy lalu bertekun dalam berdoa supaya ia boleh hidup di jalan yang benar. Setelah itu, Dessy memantapkan hati untuk kembali mempelajari firman Tuhan. Yang luar biasa, pacarnya, Revlon, juga memutuskan untuk ikut belajar Alkitab.

Selama belajar, hal yang paling sulit untuk Dessy lewati adalah sifat mudah marah, kaku, dan sulit untuk terbuka. Karakter-karakter itu sudah terlalu melekat dalam dirinya. Namun, ia mau terus dibantu dengan doa, pembacaan firman, serta bimbingan saudara-saudari yang terlibat. Selain bijak mengatur waktu untuk berdoa dan spend time dengan para sisters, antusiasme belajar yang luar biasa juga membuat Dessy mudah menjalani setiap pertobatannya.

Akhirnya, tanggal 26 Oktober 2019, Dessy dan Revlon mengambil keputusan untuk menjadi murid Yesus. Perubahan karakter Dessy ternyata turut membantu pertumbuhan rohani Revlon. Tepat setelah keluar dari kolam baptisan, Revlon meminta Dessy untuk menjadi kekasihnya di dalam kerajaan Tuhan. Keduanya kini menjalani hubungan spesial mereka sebagai murid Yesus. 

“Saya sangat bersyukur karena saya spesial di mata Tuhan,” ungkap Dessy. “Ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang sebelumnya tak pernah saya sadari. Apa yang saya inginkan, Tuhan berikan yang jauh lebih baik. Dia mengubah saya, dari seorang yang kaku, pendiam, dan temperamental, menjadi orang yang enjoy menjalani hidup, terbuka, dan tidak gampang marah. Terlebih, hari ini, saya bisa menjalani hubungan pacaran tanpa dihantui rasa bersalah akibat ketidakmurnian.”

Bergabung dalam Singles & Professionals Ministry, Dessy kini memberikan waktunya untuk pelayanan ibadah dan membantu hidup orang lain. Semoga ia terus bertumbuh dan dipakai Tuhan dengan luar biasa sebagai alat untuk menjangkau jiwa-jiwa. Kemuliaan hanya bagi Tuhan. Amin!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Aktif dalam Pergaulan dan Tetap Berprestasi, Mitos Belaka?
Gaya Pacaran yang Penuh Berkat

Video inspirasi: