Menjadi anak bungsu bukan alasan bagi Grasela Siregar untuk tidak mandiri. Selepas lulus sekolah, Grasela merantau dan bekerja di Pekanbaru. Dengan penghasilannya, ia membantu perekonomian keluarganya di kampung.

Usia muda membuat Grasela bersemangat mengejar mimpi. Perjalanannya menuju sukses pernah mengalami jatuh-bangun. Grasela merugi ketika bermitra dengan sebuah perusahaan yang mengiming-iminginya keuntungan besar. Tabungannya pun tersedot habis. Stres dan putus asa, Grasela mengurung diri di kamar serta membatasi pergaulan.

Pada 2016, Japerius, seorang brother yang sering bertugas di tempat kerja Grasela, mengajaknya menghadiri ibadah gereja. Grasela sempat datang dan belajar Alkitab. Namun, karena belum menetapkan hati, ia berhenti pada akhir tahun itu. Ia merasa belum siap menjadi Murid Yesus yang tekun memikul salib.

Setelah berkali-kali menolak ajakan ibadah dari saudara-saudari, pada Juni 2018, Grasela mau kembali belajar Alkitab dan beribadah. Dalam dua tahun terakhir, ia telah mengunjungi berbagai gereja, tetapi tetap merasa hampa. Ia tidak merasakan kasih yang sama seperti ketika belajar Alkitab dengan saudara-saudarinya.

Setelah berpikir masak-masak, Grasela memutuskan kembali bergabung dengan jemaat dan memperdalam Alkitab. Sebagai bukti keseriusannya, ia bahkan membeli sepeda motor agar tidak perlu diantar-jemput ke ibadah.

Pada Oktober 2018, Grasela memutuskan menjadi Murid Yesus. Ia menjalani pertobatan dan dibaptis. Grasela bersukacita karena selama dua tahun Tuhan terus memberinya kesempatan, hingga ia dapat memahami arti hidup sebagai Murid. Grasela bersyukur murid-murid lain tidak menyerah dan tetap mengasihinya, meskipun ia dulu sering menghindari mereka. Saat ini Grasela aktif mengajak beberapa temannya untuk belajar Alkitab.

Kemuliaan untuk Tuhan