Dahulu, Sulastri Ropita Sihombing, biasa dipanggil Lastri, memandang dosa sebagai hal wajar yang tidak terlepas dari kehidupan manusia. Karena itu, Lastri menilai bahwa orang yang jatuh dalam dosa adalah hal biasa juga.

Perubahan cara pandang Lastri berawal ketika ia melamar kerja di salah satu perusahaan swasta di Palembang. Saat itu, Lastri bertemu seorang brother bernama Willy. Beberapa waktu kemudian, Willy memperkenalkan Lastri kepada Sondang, seorang saudari di jemaat Palembang. Melalui Sondang, Lastri bertemu jemaat dan dibantu untuk memahami firman Tuhan.

Tantangan terbesar Lastri saat belajar firman adalah rasa malas dan mood-nya yang mudah naik-turun. Pada pelajaran tentang dosa, Lastri sempat tidak mau terbuka tentang dosa-dosanya. Ini membuat ia berhenti belajar. Selain itu, Lastri juga tidak konsisten bersaat teduh. Namun, Lastri akhirnya sadar bahwa dirinya adalah manusia berdosa. Hanya melalui Yesuslah ia beroleh pengampunan dan keselamatan.

Setelah itu, perubahan demi perubahan terjadi dalam hidup Lastri. Ia, yang awalnya sangat mudah bad mood, mulai bisa mengontrol suasana hati. Yang tadinya sangat temperamental, semakin mampu mengendalikan emosi. Bahkan Lastri dapat menyangkal diri untuk mengatasi kemalasannya. Ia pun melihat bahwa dosa bukanlah hal wajar, melainkan sesuatu yang harus dihindari manusia. Lukas 16:10-11 menjadi titik balik Lastri dalam memandang dosa dan hubungannya dengan Tuhan.

Setelah sepuluh bulan belajar Alkitab, pada 21 Oktober 2018, Lastri memutuskan menjadi murid Yesus. Sekarang, sebagai bagian dari jemaat Palembang, Lastri punya impian untuk menjalani hidup pelayanan dan membantu orang lain menjadi murid Yesus.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” (Lukas 16:10-11)