Berdamai dengan Kepahitan Masa Lalu

Pengabaian dan perasaan ditinggalkan oleh anggota keluarga terdekat menjadi salah satu sumber kepahitan yang dapat mengeraskan hati manusia. Namun, tidak demikian dengan Hotman, seorang pria kelahiran Sumatra Utara yang memutuskan untuk berdamai dengan masa lalunya.

Pada 2007 silam, Hotman ikut ibunya pindah ke tanah kelahiran beliau di Palembang. Selepas lulus SMU tahun 2012, Hotman merantau ke Pangkalpinang. Sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, Hotman sempat bekerja sebagai penyiar radio lokal. Di tempat inilah, ia bertemu Pendeta Keng Lie yang diundang untuk berkhotbah di radio tersebut.

Setelah itu, Hotman menjadi tertarik untuk mengenal Kekristenan dan memutuskan belajar Alkitab secara pribadi. Sayang, usia muda dan kurangnya keterbukaan membuat ia tidak melanjutkan pelajarannya hingga selesai.

Akan tetapi, firman Tuhan yang telah ditaburkan dalam hatinya tidak sia-sia begitu saja. Dua tahun kemudian, Hotman yang sudah kuliah kembali mencari komunitas murid-murid Yesus. Di dalam komunitas tersebut, ia dibantu untuk mengenal kehidupan Kristen. Namun, sekali lagi, Hotman tidak merampungkan pelajaran Alkitabnya karena pandangan yang berbeda tentang pasangan hidup yang seimbang.

Bulan April 2019, Hotman bertemu dengan seorang saudara di sebuah kopitiam. Hotman, yang kini sudah bekerja, bertukar nomor kontak dan menjalin komunikasi dengannya. Singkat cerita, saudara ini mengundangnya untuk beribadah bersama, dan Hotman pun mulai belajar Alkitab lagi. Namun, kali ini, ia melakukannya dengan semangat, karena sudah menjadi kerinduannya untuk bergabung dengan komunitas yang bisa membantunya mengenal Tuhan.

Adapun tantangan terberatnya sewaktu belajar Alkitab adalah mengampuni ayahnya. Sejak kecil, Hotman sudah ditinggal pergi oleh ayahnya, dan mereka baru berjumpa kembali ketika ia sudah duduk di bangku SMU. Peristiwa ini menanamkan kepahitan yang dalam bagi Hotman. Ia merasa ditolak dan dibuang oleh ayahnya. Sampai-sampai, ketika orang bertanya tentang beliau, Hotman akan menjawab bahwa ayahnya sudah meninggal. Lambat-laun, kepahitan ini mengkristal menjadi kebencian dan dendam. Hotman selalu ingin membalas perbuatan ayahnya. 

Barulah setelah Hotman memahami bahwa esensi kematian Yesus di kayu salib adalah untuk mengampuni dosa setiap manusia yang percaya, kepahitan itu runtuh. Pengenalan lebih dalam akan kasih Yesus menyadarkan Hotman akan betapa hebatnya rancangan Tuhan dalam hidupnya. Ia pun memilih berdamai dengan kepahitan masa lalu, karena setiap kali ia memandang salib Kristus, ia melihat dosa-dosanya telah turut dipakukan pada kayunya.

Tanggal 30 Juni 2019 adalah hari yang bersejarah bagi Hotman: Dari seseorang yang tidak mengenal Yesus, Hotman mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Ke depannya, Hotman ingin terus bertumbuh dalam Kerajaan Allah dan mengambil bagian dalam pelayanan. Hotman, yang sangat peduli dengan masa depan anak-anak remaja, saat ini berfokus membantu mereka agar memiliki pengertian yang benar akan Tuhan dan mengenal jalan kebenaran. 

Sewaktu masih belajar Alkitab, Hotman sudah menginjili dan mengajak teman-temannya mempelajari firman. Hari ini, salah seorang teman akrabnya sedang mendalami Alkitab. Dan, Hotman berharap orang tuanya kelak bisa mengenal Tuhan lewat teladan hidupnya.

Segala kemuliaan bagi Tuhan kita Yesus Kristus!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Memaafkan Secepatnya

Video inspirasi: