Written by Gery 9:18 am Bible & Character, Biblical Talk, Character, Devotionals, Quite Time & Pray, Self Development, Uncategorized

Goliat dan Sebuah Pelajaran tentang Kesombongan

goliat - gereja gkdi - cover

Saya yakin kisah Daud versus Goliat telah kita kenal. Di 1 Samuel 17, kita melihat kedua tokoh ini di medan perang. Daud dan Goliat bertarung di medan perang, dan Daud menang. 

Daud mewakili seorang underdog, pihak yang diremehkan, namun secara mengejutkan berhasil menang. Sementara Goliat adalah seorang kuat, perkasa, bahkan dikatakan “sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit” (1 Samuel 17:33).

Dengan cepat kita belajar: jadilah seperti Daud, andalkan Tuhan dan menang. Namun, pernahkah kita melihat dari sisi Goliat, mengapa ia bisa dikalahkan?

Hati Goliat yang Angkuh

goliat - gereja gkdi - 1

Ternyata, jika kita renungkan lebih dalam, persoalannya lebih dari yang disebutkan di atas.

Mari kita baca kembali perkataan Goliat sebelum bertarung dengan Daud. Tercatat di 1 Samuel 17: 8-10,

Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: ”Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku. 

Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami.” 

‘Pula kata orang Filistin itu: ”Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.”

Coba hitung berapa kali kata aku dan akhiran -ku disebutkan di sana. Tujuh kali. Apa artinya? Goliat sangat mengagungkan dirinya sendiri, dan juga bangsanya. Singkatnya, ia adalah seorang yang angkuh.

Ia sudah berperang sejak muda. Perlengkapannya banyak dan lengkap. Oleh karena itu, Goliat berani menantang bangsa Israel 1 on 1. Karena ia yakin, tidak ada yang sehebat dirinya dan ia pasti menang. Pula, bangsa Filistin berpengalaman dalam berperang. Mereka datang dengan asumsi bahwa mereka akan menang, dan secara tidak sadar, mereka menjadi sombong.

Begitu sombongnya, sehingga mereka dapat mengklaim: jika kalian menang kami akan menjadi budakmu, tetapi jika kami menang, kalian akan menjadi budak kami.

Lihatlah betapa sombongnya Goliat di hadapan bangsa Israel. Mereka sudah berpikir, bahwa mereka pasti akan menang. Bisa saja mereka sudah berkhayal untuk memperbudak seluruh bangsa Israel. Dengan seorang pahlawan yang gagah berani, kemenangan sudah di depan mata.

Nyatanya, datanglah seorang Daud yang mengacaukan semuanya. Keangkuhan orang Filistin berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan mereka. Persis kata firman Tuhan, Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Amsal 16:18). 

Kita dan Kehendak Tuhan

goliat - gereja gkdi - 2

Goliat percaya dengan kemampuannya sendiri, perlengkapannya sendiri, dan mengira kemenangan akan datang dengan mudah. Kenyataannya, semua jadi jauh berbeda. Ia tak mengira bahwa Daud mengacaubalaukan semuanya, dengan ketapel dan sebuah batu saja.

Kata firman Tuhan, Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN (Amsal 21:31). Bisa saja kita memperlengkapi diri. Kita boleh bersiap untuk mencapai suatu tujuan. Namun, hasil tetap ada di tangan Tuhan. 

Kita selaku manusia cenderung melebih-lebihkan kemampuan kita sendiri, dan lupa bahwa Tuhanlah yang menentukan segalanya. Dari sini kita belajar, banyak sekali hal-hal yang bisa terjadi di luar kendali dan kemampuan kita. Sebaik apapun persiapan atau kemampuan kita, Tuhan bisa saja berkehendak lain.

Boleh saja bermimpi, berusaha, untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, pastikan bahwa kita menghindari hati seperti Goliat, yang terlalu percaya akan dirinya sendiri, hingga menjadi sombong. Bagaimana caranya? Mari tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut.

2 Pertanyaan Evaluasi, Apakah Saya Sombong?

1. Siapa yang Sebenarnya Kita Andalkan?

Kata Daud di 1 Samuel 17:45, “”Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

Goliat mengandalkan pengalaman dan kehebatan berperangnya. Tetapi Daud mengandalkan Tuhan. Apakah kita mengandalkan “pedang dan tombak dan lembing” lebih dari Tuhan? Ini bisa saja merupakan hal-hal yang kita percayai: kemampuan, pengalaman, koneksi, atau harta benda.

Mudah saja untuk mengetahui apa atau siapa yang kita andalkan. Apa reaksi kita jika salah satu di antaranya hilang / mengecewakan kita? Akankah kita larut dalam keputusasaan, atau kita akan berlari kepada Tuhan?

2. Apa yang Saya Pikirkan Jika Saya Menang atau Kalah?

Kesuksesan dan kegagalan tidak pernah pasti. Yang membedakan adalah sikap kita dalam menghadapi keduanya.

Pernah tidak kalian berpikir seperti ini, “Lihat aja, kalau nanti gue sukses… Gue akan…” Atau, “Memangnya lu pikir lu doang yang bisa, gue juga bisa. Let’s see!” Kalau kita sudah berpikir seperti itu, kita sudah sombong. Dan Tuhan mementang orang-orang yang sombong.

Sukses bisa merugikan jika kita menjadi sombong, terlalu percaya diri dan merendahkan pihak lain. Sebaliknya, gagal bisa jadi berkat terselubung yang menuntun kita untuk rendah hati dan belajar. 

Sah-sah saja untuk merayakan kemenangan dan menangisi kekalahan. Namun yang pasti, marilah kita tetap rendah hati. Menang jangan sombong, kalah jangan minder.

Karena Kutahu Dia yang Pegang Hari Esok

Hati Goliat bisa ada di setiap kita, setiap saat, setiap waktu. Solusinya, seperti subjudul di atas, adalah dengan mengetahui bahwa Tuhanlah yang memegang masa depan. Bukan kita.

Seringkali, kita menyanyikan kata-kata ini dengan maksud: saya percaya pada-Mu, oleh karena itu saya tidak khawatir. Di sisi lain, kata-kata ini juga bisa berarti: saya tetap percaya pada-Mu, meskipun nanti saya tidak mendapat apa yang saya inginkan.

Marilah kita terus belajar untuk rendah hati. Jangan overconfident, jangan arogan. Tuhan membenci orang yang sombong. Jadilah orang yang rendah hati. Serahkanlah semua ke tangan Tuhan, karena Dia tahu yang terbaik!

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” – Lukas 14:11

Related articles:

Gereja GKDI terdapat di 37 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp

(Visited 65 times, 1 visits today)

Last modified: Mar 6

Close