Dalam doa, kita biasanya memohonkan hal-hal yang baik untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Misalnya, kita berdoa agar usaha dilancarkan, agar selamat dalam perjalanan, agar pasangan segera sembuh dari sakit, agar anak tumbuh sehat, dan lain-lain. Puji Tuhan kalau doa-doa itu terkabul dan semua berjalan sesuai harapan.

Namun, bagaimana kalau apa yang kita doakan tak menjadi kenyataan dan yang terjadi justru hal buruk?

Mengapa Tuhan Tak Selalu Mengabulkan Doa Kita?

doa - gkdi 1

Sewaktu ayah saya jatuh sakit dan harus menjalani operasi, saya senantiasa mendoakan agar beliau cepat sembuh. Siapa sangka, kondisi beliau malah makin memburuk. Segala upaya pengobatan tak membuahkan positif, dan akhirnya ayah saya meninggal dunia.

Saya pun kecewa dan merasa Tuhan tidak mengasihi Ayah. Saya tidak bisa menerima kenyataan. Namun, akhirnya saya sadar bahwa tidak setiap doa pasti dikabulkan. Karena, Tuhan tahu yang terbaik bagi Ayah.

Saat kenyataan tak sejalan dengan doa yang kita panjatkan, apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengapa kita harus percaya bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik, sedangkan rencana kita, sebaik apa pun itu, belum tentu Tuhan wujudkan?

Belajar dari firman, ada tiga hal yang bisa kita pikirkan dan lakukan untuk menyikapinya:

1. “Rancangan-Ku Bukanlah Rancanganmu.”

doa - gkdi 2

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. – Yesaya 55:8-9

Tuhan sebagai Pencipta kita, tahu apa yang lebih baik dan paling baik untuk hidup kita. Jadi, belajarlah menerima jalan dan rencana-Nya, entah itu baik atau buruk menurut pendapat kita.

Kita berhak berdoa meminta apa saja, berhak melakukan berbagai upaya yang positif, dan berhak merencanakan hal-hal yang menurut kita baik untuk dijalankan. Namun, hasilnya tetap bergantung pada Tuhan. Dialah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita. Kita boleh memohonkan keinginan dan harapan dalam doa, tapi bukan berarti Tuhan harus mengabulkannya. Tuhan berhak melakukan apa pun dalam hidup kita. Janganlah kita mengatur bahwa Dia harus merancang ini atau melakukan itu sesuai kemauan kita.

Mungkin saat ini kita merasa Tuhan memberikan sesuatu yang buruk, tetapi suatu saat nanti, kita akan mengerti apa maksud Tuhan di balik semua ini. Terimalah dan tetaplah percaya: Tuhan selalu memberikan yang terbaik.

2. “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”

doa - gkdi 3

Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. – Ayub 1:5

Ayub mengasihi kesepuluh anaknya, tetapi sadar bahwa mereka terbiasa berpesta-pora. Karena itu, seusai pesta, Ayub selalu mempersembahkan korban bakaran agar Allah mengampuni anak-anaknya jika mereka berdosa kepada-Nya.

Di sisi lain, Ayub tidak pernah tahu bahwa Tuhan menerima tantangan iblis untuk menguji imannya (Ayub 1). Semua harta-benda Ayub, termasuk kesepuluh anaknya, diambil oleh iblis. Ayub yang semula punya segalanya, kini kehilangan segalanya.

Namun, respon Ayub terhadap kemalangannya sangat luar biasa. Ia tetap memuji Tuhan. Ayub sadar, segala miliknya adalah miliknya Tuhan, sehingga Tuhan berhak mengambilnya kapan pun.

Selalu ingat dan sadari, apa pun milik kita saat ini, termasuk orang-orang yang kita kasihi, seperti orangtua, pasangan, atau anak, adalah milik Tuhan. Dia berhak mengambil mereka kapan pun, sesuai kehendak-Nya. Kita lahir tanpa membawa apa-apa; saat meninggal pun kita takkan membawa apa-apa. Karena itu, tetaplah memuji Tuhan dan belajarlah merelakan ketika Dia mengambil sesuatu yang kita miliki.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. – Ayub 1:21-22

3. “Bukan Kehendakku, melainkan Kehendak-Mulah yang Terjadi.”

doa - gkdi 4

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. – Lukas 22:42-43

Teladan terbaik dalam hal berserah dalam rencana Allah adalah Yesus Kristus.

Beberapa jam sebelum ditangkap, Yesus sadar diri-Nya harus menderita demi menanggung dosa umat manusia. Salah seorang murid-Nya sendiri mengkhianati-Nya; Dia akan ditangkap dan diperlakukan seperti penjahat, dicari-cari “kejahatan-Nya” agar bisa dijatuhi hukuman. Dia akan difitnah, diludahi, dipermalukan, disiksa, dan digantung di atas kayu salib beberapa jam lamanya agar tidak langsung mati.

Respon Yesus adalah berserah sepenuhnya kepada Allah Bapa dan membiarkan kehendak-Nya terlaksana. Yesus sangat ketakutan, tapi tidak membiarkan diri-Nya dikuasai ketakutan (Lukas 22:44). Dia berdoa bukan agar dihindarkan dari berbagai hal buruk, tapi agar mampu menanggung semua yang Bapa-Nya kehendaki untuk digenapi.

Saat doa-doa kita tidak dikabulkan dan apa yang terjadi adalah hal yang tak menyenangkan, tetaplah berpikir dan merespon dengan benar. Kita akan dimampukan untuk menerima kenyataan, memuji Tuhan, merelakan apa yang diambil-Nya dari kita, dan memohon agar Dia menguatkan kita dalam menjalani kehendak-Nya. Amin.

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Kristen Sejati atau Kristen Ikut-ikutan?

Video inspirasi: