Masa-masa anak beranjak remaja bisa dibilang merupakan fase terberat yang dihadapi orang tua. Aktifnya hormon pubertas membuat anak mengalami sejumlah perubahan fisik dan psikologis, termasuk juga di dalamnya, sisi emosional.

Tak heran orang tua sering kesulitan dalam menghadapi anak yang memasuki periode usia transisi. Anak Anda mulai menginginkan otonomi sendiri, privasi, kebebasan, serta kebutuhan untuk mandiri. Mereka kini bisa melawan, membantah, dan membalas dengan bantingan pintu. Setiap hari Anda bergumul hebat, bahkan tak jarang, pertengkaran dengan anak meledak menjadi pertarungan yang sengit dan menyakitkan.

Akibatnya, anak mulai menjauh dari Anda. Mereka jadi tertutup; Anda pun tak dapat memahami mereka. Komunikasi menjadi momok yang menyengsarakan kedua belah pihak.

Lantas, bagaimana caranya agar anak mau terbuka dan dekat dengan Anda?

1. Didik Anak yang Melakukan Kesalahan

dekat - gkdi 1

Ketika anak Anda masih kecil, Anda mungkin terbiasa menghukumnya ketika ia nakal atau tidak patuh. Pukulan di pantat (tentang boleh-tidaknya masih jadi perdebatan para ahli), berdiri di pojok ruangan, atau dilarang menonton acara televisi kesukaannya adalah sebagian contohnya. Namun, kini anak Anda bukan bocah kecil lagi. Ia telah bertumbuh, jadi cara Anda memperlakukan dirinya juga harus bertumbuh.

Dalam masa transisi ini, kesalahan yang anak perbuat bisa membuat Anda syok. Anda mungkin memergokinya sedang merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, menonton saluran hiburan dewasa, dan mulai berpacaran.

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. – Amsal 29:17

Ketika Anda mendapati kesalahan anak, jangan panik, tegang, apalagi marah-marah dan memukulnya. Jika Anda melakukannya, anak akan semakin jauh dari Anda, makin tertutup, takut, dan tidak berani berterus-terang.

Sebaliknya, ajak anak bicara empat mata. Sampaikan dengan lembut apa yang Anda lihat atau dengar. Tanyakan apa motivasi anak melakukan hal tersebut, lalu bukakan firman Tuhan untuk mendidiknya. Ajarkan hal-hal yang Tuhan inginkan dari hidupnya. Lalu, dorong anak untuk mengakui dosa dan memohon ampun kepada Tuhan dengan berdoa bersama.

Anda juga bisa menceritakan kesalahan-kesalahan yang pernah Anda lakukan ketika remaja. Dengan demikian, anak tidak merasa dihakimi, tetapi justru merasa diterima dan dekat dengan Anda.

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. – Efesus 6:4

2. Luangkan Waktu Berdua dengan Anak

dekat - gkdi 2

Ketika anak beranjak remaja, bepergian dengan orang tua tidak lagi menarik baginya. Anak akan lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-teman sepantarannya.

Oleh sebab itu, sangatlah penting meluangkan waktu khusus bersama anak agar Anda tidak kehilangan koneksi dengannya. Anda bisa gunakan momen ini untuk berbincang santai bersama anak. Mencari tahu keadaannya, keinginannya, siapa sahabatnya, apa yang ia lakukan ketika bersama teman-temannya, apa menyenangkan dan menyedihkan hatinya. Lakukan dengan tulus dan wajar, sehingga anak tidak merasa sedang diinterogasi atau diselidiki.

Cari tempat yang membuat anak nyaman duduk berdua dengan Anda. Sewaktu masih SMA, anak sulung saya lebih suka mengobrol di dalam rumah. Namun, ada juga anak yang suka tempat terbuka atau ruang publik. Biarkan anak yang menentukan lokasinya, makanannya, atau judul filmnya, agar ia merasa punya tempat khusus di hati Anda.

Entah untuk santap bersama, nonton di bioskop, berwisata, atau bercerita tentang masa-masa ketika Anda masih seusianya, gunakan waktu berkualitas tersebut sebaik mungkin. Kebersamaan ini dapat membantu Anda untuk lebih dekat dengan anak.

Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. – Efesus 5:16

“Tapi, saya sangat sibuk.”

Mungkin Anda telah melewatkan waktu bersama anak sewaktu mereka kecil. Barangkali selama ini Anda sibuk dengan pekerjaan dan ministry Anda. It’s okay. Kali ini, Anda tidak boleh kehilangan kesempatan lagi. Sebelum terlambat, habiskan waktu Anda bersama anak, terutama di fase peralihannya yang rentan dipengaruhi hal-hal negatif.

Jika anak tidak dekat dengan orang tua, atau tidak mendapat cukup kasih sayang, ia akan mencari cinta dan perhatian di tempat lain. Dalam fase ini, kondisi psikisnya sangat labil, sehingga anak bisa mencari afeksi di tempat yang salah jika Anda tidak memperbaiki hubungan dengannya.

Sejak anak sulung saya masih SMA hingga sekarang duduk di bangku kuliah, kami sangat dekat. Ia bisa datang kepada saya pukul sepuluh atau sebelas malam, meminta waktu untuk bicara. Meski sudah mengantuk dan lelah setelah seharian bekerja dan melayani di ministry, saya tetap meladeninya hingga larut malam atau dini hari.

Katakanlah, Anda bekerja tujuh jam setiap hari, enam hari dalam seminggu. Apakah meluangkan satu jam saja dalam seminggu bersama anak terasa berat bagi Anda? Manakah yang lebih penting: pekerjaan atau anak?

Jika Anda mengasihi anak, Anda tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, tetapi juga kebutuhan emosinya. Hubungan dekat Anda dengan anak akan menjadi jangkar yang kuat baginya di masa transisi yang gamang dan sensitif ini.

3. Beri Aturan dan Batasan Jelas

dekat - gkdi 3

Pada periode ini, anak cenderung ingin bebas, menolak dikekang, dan mau menentukan sendiri apa yang mereka inginkan dalam hidup. Mereka merasa sudah tahu segalanya, bahkan kadang, merasa lebih berpengalaman daripada orang tuanya.

Namun, jangan beri anak kebebasan tanpa batas. Anda harus membuat aturan dan batasan baginya, tak peduli anak suka atau tidak.

Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan. – Amsal 6:23

Aturan dan batasan Anda ibarat pelita dan jalan kehidupan bagi masa remaja anak yang penuh gejolak. Tata tertib Anda akan membantu anak memahami bahwa ia tidak bisa bertindak seenaknya. Ia tetap harus mematuhi peraturan yang diberikan orang tua sebagai pihak otoritas. Dengan demikian, anak akan belajar bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya, sekaligus menghormati dan menghargai orang tuanya.

Lebih baik memberitahu di awal daripada marah-marah di kemudian hari. Jelaskan aturan dan batasan Anda. Lalu, buatlah perjanjian atau deal untuk hal tersebut.

Tiga langkah krusial di atas perlu Anda terapkan untuk membangun hubungan dekat dengan anak. Tidak sulit, bukan? Meski saat ini anak belum bisa melihat sisi positifnya, percayalah: ketika dewasa, ia akan menyadari bahwa apa yang Anda lakukan telah menolongnya melewati masa-masa peralihan yang sulit itu.

Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. – 1 Korintus 15:58

Selamat mencoba!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:  Teladan Para Raja yang Takut akan Allah

Video inspirasi: