Decide to Rise- Jakarta Married Ministry Retreat 2017

Bertempat di Villa Mandiri – Puncak, retreat ini diadakan oleh Married Ministry dari wilayah Jakarta Pusat dari tanggal 18-20 Agustus 2017. Dalam fellowship yang hangat, para pasangan menikah berbagi kisah hidup mereka satu sama lain, berdoa dan mempelajari Firman Tuhan bersama-sama, serta menikmati waktu melalui games-games seru. Betapa beruntungnya menjadi bagian dari keluarga rohani seperti ini!

1 Korintus 9:25  Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

Di tengah hiruk pikuk kesibukan, hubungan pernikahan serta keluarga yang butuh dibina, serta tuntutan zaman yang semakin berkembang, bagaimana caranya agar kita dapat tetap berada di jalur Tuhan hingga suatu saat kita berhasil memperoleh mahkota abadi? Sebagai manusia, mudah sekali bagi kita untuk beralih dari satu hal ke hal yang lain, terutama bila hal tersebut dirasa menarik. Tapi pertanyaannya, apakah Tuhan masih mendapatkan perhatian kita? Oleh karena itu, tema Decide to Rise diambil untuk menantang semua iman peserta retreat, untuk bangkit dari keterbatasan-keterbatasan hidup serta permasalahan yang ada.

Sebelum sesi pelajaran dari Pendeta Harliem Salim dimulai, ada kejutan ulang tahun dari panitia retreat bagi peserta yang berulang tahun di bulan Agustus. Seluruh peserta retreat merayakan ulang tahun ini dalam keceriaan serta kehangatan.

Kejutan ulang tahun bagi peserta retreat

Highlight dari retreat ini adalah saat Pendeta Harliem Salim membagikan pelajaran tentang “Decide to Rise“. Bagaimana kita bisa bertahan, menyelesaikan pertandingan dengan baik serta memperoleh mahkota yang Tuhan janjikan? Mari kita simak bersama rangkuman dari pelajaran Pendeta Harliem berikut ini:

khotbah-retreat
Sesi pelajaran oleh Pendeta Harliem Salim

Saat kita sudah mengenal kebenaran Tuhan, memberi diri dibaptis, dan menjadi murid-Nya maka seharusnya kita yang memiliki insiatif untuk mendekat kepada Allah. Seperti yang dikatakan Yakobus 4:8, “Mendekatlah kepada Allah dan Ia akan mendekat kepadamu.” Pendeta Harliem mengangkat beberapa tokoh yang tercatat dalam alkitab dan berhasil menyelesaikan pertandingan hidup serta mencapai mahkota keabadian, yaitu Henokh, Nuh, & Abraham. Ketiga tokoh ini memiliki persamaan, yaitu hubungan mereka dengan Tuhan sangatlah dekat. Mereka merespon dan mendekat kepada Allah dengan sepenuh hati.

Sebagai kontrasnya, bangsa Israel yang merupakan bangsa terpilih, memiliki kondisi sebaliknya. Setelah dibebaskan dari Mesir, hati bangsa Israel tidak terpaut pada Tuhan. Dengan pemikiran sendiri, mereka berharap setelah bebas dari Mesir Tuhan akan membawa mereka ke negeri yang berlimpah susu & madunya. Padahal apa maksud Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir? Yaitu agar bisa beribadah pada Tuhan, agar hubungan antara Israel dan Tuhan dipulihkan.

Namun, motivasi bangsa Israel lebih condong ingin mendapatkan susu, madu dan ladang-ladang anggur daripada menginginkan hubungan dengan Tuhan. Hingga di akhir buku perjanjian lama, Tuhan berkata, “Aku mengasihi kamu,” firman Tuhan. Tetapi kamu berkata, ” Dengan cara bagaimanakah engkau mengasihi kami?” (Maleakhi 1:2). Betapa kecewanya Tuhan dan setelah ini Tuhan diam selama 400 tahun hingga dimulainya perjanjian baru.

Termasuk yang manakah kita saat ini?  Apakah respon kita seperti Henokh, Nuh, Abraham (mengasihi Tuhan karena Tuhan – who He is) atau seperti bangsa Israel (mengasihi Tuhan karena apa yang bisa Tuhan beri – what He can give/do)?

Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa tetap berada di jalur pertandingan yang benar? Ataupun, jika kita sudah memasuki pertandingan, apakah kita berlari untuk memenangkan dan mengejar mahkota kehidupan atau malah sebaliknya?

1. Mengambil Waktu

Keluaran 3:2-4 menggambarkan situasi dimana Musa mengambil keputusan untuk bergerak menyimpang dan menyelidiki semak yang terbakar. Perlu diingat, saat itu Musa sedang menggembalakan domba-dombanya yang dapat dikatakan hewan bodoh. Saat Musa mengambil gerakan menyimpang, itu berarti ia mengambil resiko meninggalkan domba-dombanya dan akan ada kemungkinan hilang hanya untuk bergerak mendekati Tuhan.

Hari ini, apakah kita menyimpang dari rutinitas kesibukan kita untuk bisa mendekat dan mendengarkan Tuhan lewat firmanNya?

2. Memupuk rasa lapar

We will hunger for what we feed on. Dengan apakah diri kita diisi hari ini? Karena pola manusia biasanya pasti akan selalu kembali kepada apa yang biasa kita makan. Contoh hidup Daud dan Musa diambil pada bagian ini. Daud yang mengisi dirinya senantiasa dengan Firman Tuhan serta Musa yang setia berjalan bersama Tuhan. Mereka berdua memimpin sejumlah pengikut dalam jumlah banyak dan keadaan pengikut mereka sangatlah negatif. Bagaimana mereka bisa lalui semua itu? Mengapa mereka bisa bertahan di segala kondisi sulit dan melelahkan, namun tetap hidup sebagai pemenang? Jawabannya adalah karena mereka lapar dan haus akan Tuhan. Dalam tiap keadaan, Daud dan Musa selalu mencari hikmat Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Daud, “Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.” (Mazmur 27:8).

Apakah Tuhan biasanya yang kita cari pertama kali saat menghadapi masalah/kesukaran/badai hidup? Atau kita cari kepuasan di tempat lain seperti harta, kenikmatan, dan sebagainya? Ambil waktu dan pupuklah rasa lapar akan Tuhan.

Lalu, Pendeta Harliem melanjutkan dengan 1 Korintus 9:19-23, dimana dalam ayat tersebut rasul Paulus menyebutkan bahwa di dalam kebebasannya ia justru memilih untuk menjadi hamba bagi semua orang dan bagi kebenaran. Manusia pada umumnya selalu berbicara tentang hak, tetapi mengapa Paulus justru memilih untuk menjadi hamba kebenaran (slave of righteousness) dan hamba bagi semua orang?

Jawabannya ada di 1 Korintus 9:24-27, setelah hidupnya diubahkan oleh Kristus, Paulus sangat mengerti bahwa ia telah memasuki sebuah gelanggang pertandingan dan tujuan hidupnya adalah memenangkan mahkota keabadian. Sama seperti Yesus yang tidak lagi mempertahankan hakNya sebagai anak Allah dan mau menderita di kayu salib agar kita semua bisa mendapatkan hidup kekal. Paulus pun melakukan hal yang sama. Ia tak lagi fokus pada hak, namun melatih dirinya sedemikian rupa untuk menjadi hamba kebenaran dan memberitakan Injil agar orang-orang dapat diselamatkan.

Tuhan yang ada di zaman Musa, Daud, dan Paulus sama dengan Tuhan yang kita sembah hari ini. Ia memanggil kita untuk memenangkan pertandingan, bukan hanya untuk memasuki arena pertandingan. Musa, Henokh, Daud, Abraham, Nuh, dan Paulus mampu melihat siapa Tuhan sebenarnya di atas kesulitan-kesulitan hidup mereka. Apakah kita bersedia untuk mengikuti jejak mereka? Apakah kita sudah menjadikan diri kita hamba kebenaran?

Setelah mendapatkan siraman rohani dari Pendeta Harliem, acara games pun dimulai. Games yang diadakan mengusung tema 17 Agustus, seperti lomba balap karung, kelereng, makan kerupuk, dan juga tarik tambang. Pasangan-pasangan menikah ini sangat bersemangat dan kita bisa lihat semua keceriaan mereka melalui foto-foto di bawah ini:

Semangat yel-yel tiap grup peserta games
Suasana games dengan tema 17 Agustus

Setelah acara games berakhir, para peserta mendapatkan waktu bebas untuk spend time dan fellowship juga beristirahat. Keesokan harinya setelah ibadah minggu bersama dan pembagian hadiah bagi pemenang games, para peserta retreat pulang kembali ke rumah masing-masing dengan sukacita dan dengan sebuah keputusan untuk bangkit…to rise above all things.

retreat-sunday-service
Sunday service dan pembagian hadiah bagi grup pemenang games