Cinta, Menyembuhkan Si Pemberi dan Si Penerima

Malam semakin larut, dan adik saya belum pulang juga. Saya kesal dan khawatir karena sudah mengingatkan adik agar istirahat cukup sebelum menghadapi ujian besok. Hingga pukul sebelas malam, ponselnya tidak juga diangkat.

Tak lama kemudian, adik pulang. Rautnya sedih bukan main. “Banyak yang belum selesai dipelajari, Kak,” katanya sendu. “Aku marah dan kecewa sama diri sendiri, kenapa enggak bisa mengatur waktu dengan baik.”

Bukannya iba dan menghibur, saya yang masih kesal malah berkata, “Sudah, istirahat saja. Tidak ada gunanya belajar lagi sekarang.”

Adik tidak membantah, hanya bergegas mengambil blus putih dan rok hitam, lalu menyetrikanya untuk dipakai dalam ujian besok. Saya pun masuk kamar dengan pikiran berkecamuk.

Ah, mengapa saya tidak mampu memberikan dukungan dan cinta ketika adik saya membutuhkannya?

Empati Lahir dari Hati yang Penuh Cinta

cinta - gkdi 1

Saat seseorang sedih dan kecewa dengan diri sendiri, apa yang dia harapkan? Apakah nasihat, kecaman, atau penghiburan?

Malam itu, saat saya melihat adik pulang dengan wajah letih, sebenarnya hati kecil saya berbisik, “Beri pelukan untuk adikmu. Dia sedang lelah dan sedih.” Namun, suara lain berujar gusar, “Dia membuatmu khawatir dan gelisah karena pulang larut.” Dan, malangnya, saya malah mengikuti suara yang terakhir.

Saya kesal karena nasihat dan peringatan saya tidak digubris, tetapi sebenarnya bukan itu yang dibutuhkan adik saat itu. Marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat kami berdua merasa lebih baik.

Orang yang sedang bersedih tidak perlu dibuat semakin sedih dengan sikap kurang berempati saya. Apalagi, Alkitab sudah mengajarkan agar saya bisa menyelami dan memahami perasaan orang lain.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! – Roma 12:15

Kita baru bisa berempati dengan orang lain ketika kita tidak berfokus pada ego dan keakuan Kita bisa berempati ketika kita lebih mengutamakan kasih dan penerimaan daripada tuntutan dan ekspektasi. Orang yang hidup di dalam Yesus, dan Yesus hidup di dalamnya, akan mampu mengasihi di saat-saat yang tidak mudah.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” – Galatia 2:20a

Jika Kristus hidup dalam hati kita, kasih-Nya lebih dari cukup bagi kita untuk melakukan hal-hal ini: mengalahkan ego, melihat sesama dengan kasih, dan memperlakukan dengan baik orang yang sedang kesusahan. Tanpa cinta di hati, mustahil kita bisa berempati.

Cinta: Menyembuhkan Baik yang Memberi maupun yang Menerima

cinta - gkdi 2

Saya berharap saya mengambil keputusan yang berbeda malam itu. Membuka pintu sambil tersenyum, memeluk adik, mendengar keluhannya, dan meyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja. Andai saya menawarkan bantuan untuk menyetrika pakaiannya, pastilah adik saya akan sangat terhibur dan terbantu. Saya pun berangkat tidur dengan hati tenteram, bukan dengan rasa bersalah.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” – Ibrani 4:12

Seperti firman Allah yang membenahi hati pendengar dan penaburnya, cinta juga bisa menyembuhkan hati orang yang menerima dan yang memberikannya.

Cinta: Tidak Ditunggu, tetapi Diupayakan

cinta - gkdi 3

Syukur kepada Tuhan, saya masih diberi kesempatan memperbaiki kesalahan. Merenungkan kejadian malam itu, saya bertekad memperbaiki sikap saya besok pagi. Saya nyalakan alarm agar dapat bangun lebih awal.

Pagi-pagi, saya siapkan sarapan agar adik bisa berangkat ujian dengan perut kenyang. Saya tanyakan perasaannya tentang ujian itu. Saya mendengarkan, menguatkan, meyakinkan, dan mengajaknya doa bersama sehabis sarapan. Kami pun berpisah pagi itu dengan hati lega.

Cinta harus ditumbuhkan dan dipelihara, khususnya dalam masa-masa sulit. Kita tidak menunggu cinta untuk datang, tetapi mengusahakannya agar hadir dalam hidup kita.

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. – Kolose 3:14

“Mengenakan kasih” berarti mengupayakan agar kasih itu selalu ada dan melekat pada diri kita. Ibarat mengenakan pakaian, kita perlu mengambil, memasang, mengancing, dan terus memakainya agar badan kita terlindungi. Kasih akan menyempurnakan situasi, kondisi, serta kelemahan dalam diri kita dan orang lain.

Bagaimana Jika Sulit Mengasihi?

cinta - gkdi 4

Jika kita merasa sulit mengasihi, ingatlah betapa besar kasih Tuhan bagi kita. Jika kita merasa berat mengampuni, ingatlah berapa banyak Tuhan telah mengampuni kita. Seandainya sulit berempati, ingatlah betapa Tuhan telah sangat merendahkan diri-Nya agar bisa memahami kelemahan kita.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. – Filipi 2:5-7

Hanya orang yang merasakan, mengerti, dan menghargai kasih Kristuslah yang bisa menghasilkan perbuatan baik, penuh cinta dan memuliakan Tuhan. Amin.

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Musa – Bagian 1 Percaya Diri di Dalam Kelemahan

Video inspirasi: