gkdi lagu

Anda mungkin pernah mendengar istilah introver (introvert) dan ekstrover (extrovert). Kedua kepribadian ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yang memperkaya dinamika kehidupan kita. Introversi dan ekstroversi adalah sebuah spektrum. Artinya, setiap orang punya sisi introver dan ekstrover, hanya saja kadar dominannya berbeda-beda.

Mereka yang introver cenderung tertutup, senang menyendiri, introspektif, memiliki kemampuan analisis yang baik, dan menyukai suasana tenang. Mereka mendapatkan energi ketika sendirian, juga banyak berpikir sebelum bicara. Orang introver lebih nyaman bersosialisasi dengan sedikit orang, tetapi bukan berarti mereka segan melakukan interaksi sosial.

Sebaliknya, orang ekstrover biasanya lebih banyak bicara, terbuka, cenderung blak-blakan, senang bergaul, spontan, terkesan tegas, antusias, dan impulsif. Mereka tidak suka kesendirian dan mendapatkan energinya ketika bersosialisasi.

Ada kalanya seorang introver ingin menyeimbangkan kutub-kutub kepribadiannya ke arah ekstrover. Bukan berarti Anda malu dengan kepribadian Anda, tetapi Anda ingin terus bertumbuh dalam hal-hal lain. Bagaimana cara mencapai hal ini?

Keluar dari Zona Nyaman

Sebagai orang yang pada dasarnya introver, saya sulit meninggalkan zona nyaman. Saya tidak mudah dekat dengan orang, serta lebih nyaman berada dekat orang yang saya kenal akrab. Saya tidak tertarik beraktivitas dalam kelompok atau menghadapi orang banyak. Interaksi one on one adalah kelebihan saya.

Sewaktu belajar Alkitab, saya ditantang untuk menjalin persekutuan (fellowship) dengan orang yang baru saya kenal dalam setiap ibadah. Tantangan ini membuat saya terbeban. Namun, dengan mempertahankan zona nyaman, ternyata saya tidak lebih bahagia. 

Dalam hati kecil, saya ingin menikmati fellowship dengan saudara-saudari seiman. Berbagi canda dan tawa, saling memperhatikan dan peduli. Namun, yang saya lakukan justru sebaliknya. Saya kikuk, canggung, dan berdiam diri. Saya hanya datang ke ibadah, dengar khotbah, lalu pulang.

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. – Roma 7:19-20 

Biasanya ada motivasi di balik keengganan semacam ini. Contoh, takut dinilai buruk, merasa rendah diri, dan lain-lain. Mari periksa motivasi kita. Apakah didasari oleh kesombongan, misalnya takut tidak terlihat baik? Adakah kendala lain seperti trauma, kesulitan berbicara, atau hal yang perlu mendapat penanganan serius?

Ketika Anda tahu tinggi hati itu tidak baik, tapi tetap melakukannya, Anda terdorong oleh dosa. Namun, jika kendala Anda adalah masalah psikologis, jangan menyalahkan diri atau hanya membiarkan. Cobalah mencari bantuan dari ahli atau orang yang bisa Anda percaya.

Menyadari hal di atas, saya pun belajar keluar dari zona nyaman. Saya lebih memperhatikan orang lain, terlibat dalam interaksi, dan menyemangati saudara / saudari yang sedang gundah. Melihat orang lain kembali bahagia, saya pun ikut bahagia. Sejak saat itu, saya tidak takut lagi menjangkau orang, dan lebih menikmati persekutuan. 

Belajar Lebih Terbuka

Dulu saya tidak suka berbicara di depan banyak orang. Saya takut orang tidak mendengarkan saya. Takut pada apa yang mereka pikirkan ketika saya terbuka dengan pemikiran atau isi hati saya. Apa pun alasan kita untuk bersikap tertutup, rasanya tidak mengenakkan.

Suatu kali ketika saya pergi bersama mission team ke Pontianak, pemimpin para saudari memberi saya sebuah pesan singkat: “Be open.” Bersikaplah terbuka. 

Saya merenungkan alasan beliau berpesan demikian. Meski saya dengan senang hati ikut misi penginjilan, dengan sikap tertutup saya, bagaimana mungkin saya akan efektif untuk pekerjaan Tuhan? 

Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. – Matius 10:27

Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk bicara terang-terangan mengenai apa yang mereka dengar dari-Nya. Apa yang didengar dalam gelap, yang dibisikkan, harus dikatakan dalam terang. Dengan kata lain, tidak boleh ada yang kita tutupi. Yesus ingin murid-murid-Nya tidak berdiam diri.

Perlu dipahami bahwa introver tidak identik dengan rendah diri. Orang ekstrover pun bisa minder dan mencari validasi dengan cara berbeda. Dan, “pandai bicara” tidak sama dengan bicara antusias tanpa isi. Menjadi introver tidak berarti tidak pandai bicara, hanya saja Anda punya banyak pertimbangan sebelum mengkomunikasikan sesuatu.

Dalam misi, saya harus membimbing orang untuk mengenal firman Tuhan. Mau tak mau, harus bicara dan terbuka. Namun, saya juga tidak lantas bisa spontan bicara panjang-lebar. Jadi, saya mencatat dahulu apa yang saya ingin sampaikan. Hasilnya ternyata melebihi pengharapan saya. Orang yang saya injili tergerak hatinya dan menerima Yesus. 

Ketika saya mencoba bersikap terbuka, saya merasakan banyak faedah. Saya bisa belajar cara pandang orang lain. Pikiran saya tidak lagi sempit, karena saya mendapat banyak masukan yang bermanfaat bagi pertumbuhan rohani saya. Kini saya terbiasa bicara di tengah kelompok. Bahkan, saya menikmati waktu-waktu mengobrol, terutama mengenai firman Tuhan. Jika saya bisa, Anda pun pasti bisa!

Lebih Bahagia Memberi daripada Menerima

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”  – Kisah Para Rasul 20:35

Orang yang berkepribadian introver cenderung pasif, jarang berinisiatif memulai sesuatu. Ia menjadi pengamat dan menerima apa yang dilemparkan oleh situasi. Akibatnya, ia cenderung bersikap kritis ketika apa yang dilakukan orang lain tidak memenuhi pengharapannya.

Suatu kali, saya mempraktikkan ayat ini untuk membuktikan kebenarannya. Saya luangkan waktu untuk bertemu banyak orang dan para saudari. Ketika membantu pergumulan mereka yang lemah, memimpin mereka yang mulai menyimpang, dan mengasihi orang-orang yang sulit dikasihi, saya menyadari satu hal: saya punya banyak hal untuk diberikan. Dan, itu rasanya lebih membahagiakan daripada hanya duduk menerima.

Mulailah memberi dari langkah sederhana, misalnya menyapa lebih dahulu ketika berpapasan, atau menawarkan bantuan / saran. Kalau Anda senang diperhatikan atau disapa, orang lain pun demikian. Niscaya, kebahagiaan mereka akan mendorong Anda untuk membuat langkah-langkah yang lebih besar.

… dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. – Kolose 3:10 

Jangan batasi pertumbuhan Anda dengan label kepribadian. Ingat, introversi dan ekstroversi adalah spektrum yang bisa bergeser. Ketakutan Anda terhadap penilaian orang, untuk lebih terbuka dan memberi, tidak sebanding dengan kebahagiaan ketika Anda berhasil menjadi pribadi yang lebih baik dan seimbang. Selamat mencoba!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: