Mengapa Kita Perlu Berhenti Menyalahkan Orang? – Gereja GKDI

Coba berhenti sejenak dan pikirkan ini: ketika sesuatu yang tidak enak terjadi, hal apa yang paling mudah dilakukan? Pastilah menyalahkan orang lain. “Gara-gara kamu, hidup saya berantakan.” Atau, “Gara-gara dia, hidup saya sengsara!”

Menyalahkan orang atas sesuatu yang kita alami memang mudah. Tak perlu bertanggung jawab, karena bukan kesalahan kita. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa kesalahan tidak melulu terjadi karena orang lain? 

Ada kalanya, Anda membuat kesalahan. Terkadang musibah terjadi diluar kendali kita. Dan kadang-kadang karena bukan kehendak Tuhan, sesuatu tak terjadi sesuai keinginan Anda. 

Berhenti Menyalahkan, Mulai Belajar

berhenti-gkdi-1

Yakobus 3:2a  Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; 

Banyak faktor yang menyebabkan sesuatu terjadi dalam hidup Anda. Begini contohnya. 

Anda tengah berkendara dengan motor, tiba-tiba Anda menabrak pohon di jalan. Mungkin karena jalan yang berlubang, sehingga motor Anda selip dan melaju tak terkendali. Atau Anda  berkendara terlalu cepat sehingga tidak melihat jalanan dengan baik. 

Apakah Anda akan mengomeli pohon tersebut, mengapa ia tumbuh di sana? 

Atau Anda menerima bahwa ada bagian Anda yang menyebabkan itu semua terjadi, sehingga Anda berjanji untuk lebih hati-hati?

Jika Anda mencari penyelesaian yang mudah, tentu pilihan pertama terlihat menarik. Namun, jika Anda ingin bertumbuh lebih baik, Anda akan memilih yang kedua. Mengapa? Karena kecelakaan tersebut memberi Anda pelajaran berharga. Ke depannya, Anda tentu bisa berkendara dengan lebih baik.

Jadi, berhenti menyalahkan orang lain dan lihatlah apa yang bisa Anda pelajari. Jika Anda memilih untuk menyalahkan pihak lain, bagaimana Anda akan belajar melakukan sesuatu lebih baik lagi dan melakukan hal yang benar? 

Untuk melihat lebih jelas, mari kita lihat tokoh Alkitab di bawah ini.

Raja Saul: “Itu Bukan Salah Saya”

berhenti-gkdi-2

Jika ada tokoh di dalam alkitab yang mengalihkan kesalahan kepada orang lain, maka Raja Saul berada pada urutan pertama.

Di 1 Samuel 13:1-13 diceritakan bahwa Saul berada di Gilgal, menantikan kedatangan Samuel, untuk memperbaharui jabatannya sebagai raja. Di hari ketujuh, hari yang dijanjikan Samuel, orang Filistin telah berkumpul untuk berperang melawan orang Israel. Sementara Samuel tidak juga datang. Rakyat terdesak, mereka terjepit dan berserakan meninggalkan Saul. 

Saul pun berkata, “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Dikatakan lalu ia mempersembahkan korban kabaran. Tak lama kemudian Samuel datang dan Saul menyapanya.

“Apa yang telah kau perbuat?” tanya Samuel.

Di sinilah Saul melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Saul  memberikan 3 alasan bahwa dia tidak punya pilihan lain selain tidak taat

  1. Rakyat berserakan (bukan salahnya Saul)
  2. Samuel belum datang juga (bukan salahnya Saul)
  3. Orang Filistin telah mengepung (bukan salahnya Saul)

Berdasarkan ke tiga hal tersebut, Saul mengatakan bahwa ia terpaksa membakar korban persembahan. Pada dasarnya ia berkata, “ini bukan salah saya. Ini terjadi karena saya tak punya pilihan.”

Bagaimana jawaban Samuel?

1 Samuel 13:13 Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan_Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengukuhkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.”

Saul tidak mengikuti perintah Tuhan. Itu yang terpenting. Tuhan tidak pernah membenarkan perbuatan Saul. Yang Tuhan mau dari Saul adalah kepatuhannya, ketaatannya, sekalipun dalam keadaan terdesak.

Konsekuensinya, Saul dicopot dari jabatannya sebagai raja. Akhirnya Tuhan memilih orang lain yang berkenan di hati-Nya.

Dari kisah Saul ini, kita bisa belajar, menyalahkan orang lain atau keadaan  tidak dibenarkan oleh Tuhan. Saul tidak bisa melihat kesalahannya. Karena suka menyalahkan orang lain, menunjukkan bahwa Saul tidak ada penyesalan telah melanggar perintah Tuhan. Di 1 Samuel 15, lagi-lagi Saul melanggar perintah Tuhan dan membuat alasan-alasan lain.

Bagaimana dengan Anda hari ini? Apakah Anda seperti Saul? Selalu melimpahkan kesalahan kepada situasi atau orang lain? Berhenti menyalahkan orang lain, cobalah untuk melihat ke dalam diri Anda. Akui kesalahan Anda, supaya ke depannya Anda bisa menjadi lebih baik lagi.

Berhenti membuat alasan. Atau mencari-cari kambing hitam. Berhenti dan renungkanlah sejenak. Cobalah evaluasi apa yang telah Anda lakukan: “Apa yang telah salah dan keliru dalam diri saya?” Bagaimana kelak supaya tak terulang kembali? Apa rencana Tuhan bagi hidup Anda di tengah situasi yang tidak mengenakkan tersebut? Apa respon yang Tuhan mau dari Anda? 

1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dos akita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dos akita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Akhir kata, menyalahkan orang lain atau situasi tidak membantu Anda. Berhenti menyalahkan, mulailah merenungkan. Ambillah tanggung jawab atas hal-hal yang terjadi dalam hidup ini. Dijamin, Anda akan bertumbuh banyak. Anda dapat perspektif baru dalam hidup, dan jadi lebih dewasa dalam menghadapi masalah.

Semangat, Anda pasti bisa!

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok