Mendengar kata benci, yang pertama terlintas di pikiran kita biasanya adalah sesuatu yang negatif. Membenci sesama (Imamat 19:17), kebenaran firman (Yohanes 17:14), atau didikan (Amsal 15:10) memang merupakan hal buruk, bahkan merugikan diri sendiri.

Di sisi lain, ada jenis benci yang positif, yaitu ketika kita mengarahkannya kepada dosa.

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” – Amsal 8:13

Mari belajar dari dua tokoh Alkitab, Yusuf dan Pinehas, bagaimana cara menjadikan kebencian terhadap dosa sebagai pemicu untuk hidup benar.

1. Yusuf – Berani Menolak Godaan Walau Dibenci (Kejadian 39:1-23)

benci - gkdi 1

Yusuf, anak kesebelas Yakub, dikabarkan rupawan dan punya sikap yang menyenangkan. Tuhan menyertainya sehingga dia selalu berhasil dalam pekerjaan dan menyenangkan majikannya. Tak heran, istri Potifar sampai terpikat pada Yusuf. Berkali-kali wanita itu membujuknya untuk tidur bersama, tetapi selalu ditolak.

Bagi dunia, barangkali ini reaksi yang bodoh. Menolak diberi kenikmatan, padahal tidak ada yang tahu. Toh, sebagai kepala pengawal raja, Potifar sering pergi menemani Firaun dalam berbagai kunjungan, baik di dalam dan luar Mesir.

Namun, Yusuf sadar bahwa Tuhan Mahatahu, dan bahwa dosa, senikmat apa pun itu, akan membawanya kepada maut (Yakobus 1:15).

Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. – Kejadian 39:12

Pelajaran pertama dari Yusuf: tinggalkanlah seseorang atau sesuatu yang mendorong kita berbuat dosa.

Semenarik apa pun godaan itu, dapat dengan tegas kita tolak jika kita membenci dosa. Sering kali kita sebenarnya tahu seperti apa bentuk godaan, tetapi tetap saja kita jatuh berkali-kali. Ini karena kita mencintai dan tidak mau meninggalkan dosa tersebut.

Pelajaran kedua: tetaplah lakukan yang terbaik sesuai kehendak Tuhan, meski harus menanggung derita.

Karena fitnah istri Potifar, Yusuf dijebloskan ke penjara. Namun, ia tidak mengeluh kepada Tuhan, “Kenapa aku dipenjara, padahal menolak berzina?” Ia juga tidak menyalahkan Potifar yang langsung mendakwanya bersalah tanpa menyelidiki lebih dahulu. Yang Yusuf lakukan adalah tetap tunduk kepada Tuhan.

“Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” – Yohanes 15:19

Membenci dosa mungkin membuat kita dibenci manusia, tapi itu jauh lebih berharga daripada dibenci Tuhan demi dicintai manusia.

Lalu, apakah kelanjutan kisah Yusuf yang memilih taat berakhir baik?

Ya, Tuhan memberkati jalan hidupnya dengan luar biasa: dari seorang narapidana, Yusuf menjadi orang kepercayaan Firaun (Kejadian 41:43).

2. Palus – Menegur Petrus yang berlaku munafik (Galatia 2:11-14)

benci - gkdi 2

Bicara reputasi, Petrus adalah pemimpin para rasul yang sangat dihormati di kalangan jemaat mula-mula. Namun, saat menghadapi tekanan sosial, tak ayal Petrus pun jatuh dosa. Dia berlaku munafik dengan tidak mau terlihat makan bersama saudara-saudara yang tidak bersunat. Melihat perbuatan Petrus yang kemudian diikuti oleh jemaat Yahudi lainnya, Paulus berani bersuara.

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” (Galatia 2:14).

Saat kita tulus mengasihi seseorang, kita pasti mengharapkan yang terbaik untuknya dan tidak ingin dia celaka. Saat kita melihat saudara kita berbuat dosa, kita tidak sungkan menegurnya agar dia tersadar dan bertobat. Mendiamkan dengan dalih tidak enak, takut orang itu tersinggung, atau takut mempermalukannya, sebenarnya tindakan yang tidak mengasihi.

Paulus mengasihi Petrus. Paulus menentang Petrus bukan untuk mempermalukannya, melainkan menyadarkannya. Saat kita menegur saudara yang berdosa, mungkin awalnya orang itu akan jengkel. Namun, dia akan melihat bahwa Anda melakukannya karena kasih.

Apakah Petrus lalu membenci Paulus? Tidak. 2 Petrus 3:15 berkata: Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Petrus menyebut Paulus sebagai saudaranya yang kekasih, karena dia menghargai Paulus yang selalu mengasihinya.

Kalau saat ini musuh kita banyak, usaha kita dipersulit, kita difitnah, diejek, dijegal, ditolak banyak orang karena menolak berbuat dosa, kita tidak sendiri. Yusuf pernah mengalami, Yesus mengalaminya. Kita harusnya berbahagia dibenci dan ditolak orang yang gemar bikin dosa, karena itu tanda hidup kita lurus dan sesuai firman Tuhan.

Kalau kita ditegor seseorang saat jatuh dosa, bersyukurlah. Ucapkanlah terima kasih dan kasihilah orang itu, karena dia mengasihi Anda. Kalau Anda tahu atau lihat seseorang jatuh dosa, kasihilah orang itu dengan menegornya dan membantunya bisa bertobat dari dosanya. Bencilah dosanya, namun tetaplah mengasihi orangnya, sehingga kita mampu melakukan berbagai tindakan kasih untuk orang itu.

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” – Yakobus 5:20

Godaan dosa akan selalu ada, tapi kita dapat melawannya dengan terlebih dulu membenci dosa. Berbahagialah ketika kita ditolak oleh dunia, karena itu tandanya kita hidup lurus dan sedang menabung berkat rohani di surga (Lukas 6:22-23). Amin.

* Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Haruskah Seorang Kristen Melayani?

Video inspirasi: