Setiap orang memiliki rasa takut, tak terkecuali tokoh-tokoh besar atau bangsa dalam Alkitab atau mereka yang kelihatannya kuat. Inilah yang sedang terjadi saat ini, ketika seluruh dunia dicekam ketakutan global akibat pandemi coronavirus yang menyebar begitu cepat. Ditambah pula, kekhawatiran terhadap dampaknya. Antara lain, kehilangan nafkah atau omzet bisnis, kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai, serta kelangkaan APD (alat pelindung diri) bagi tenaga medis.

Salah satu kisah mengenai ketakutan ada dalam Bilangan 13. Bangsa Israel, yang kala itu mengembara di padang gurun, akan memulai sebuah perjalanan baru, yaitu memasuki tanah Kanaan. Ketakutan dan iman berperang dalam batin mereka—sebuah pertarungan yang juga kita alami di tengah wabah COVID-19

Tuhan berkata kepada kita lewat firman-Nya, “Jangan takut.” Namun, bagaimana cara mengalahkan ketakutan ini? Mari lihat lebih detail kisah dua belas pengintai dari sudut pandang Yosua dan Kaleb, sepuluh pengintai, serta bangsa Israel itu sendiri. 

Dua Belas Banding Dua

Dua belas orang dikirim Musa untuk mengintai Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan untuk bangsa Israel. Mereka bukan orang sembarangan, melainkan pemimpin dari 12 suku Israel. Namun, dari semua pengintai, sepuluh orang menyampaikan informasi yang membuat bangsa itu ketakutan. Hanya dua orang, Yosua dan Kaleb, yang optimis bahwa mereka akan mampu menduduki Tanah Perjanjian. 

Sama seperti perbandingan 12:2 ini, ketakutan kita sering kali lebih besar daripada iman kita. Apa sebenarnya akar ketakutan kesepuluh mata-mata itu—yang mungkin tanpa sadar juga kita pelihara? Dan, hal-hal apa saja yang harus kita perhatikan agar kita menjadi orang yang berani?

1. Pikiran (Thoughts) Control Your Mind

Terkadang, apa yang menghalangi kita bukanlah keadaan atau orang lain, tetapi cara pikir kita sendiri. Selama kita hidup, rasa takut sewaktu-waktu bisa datang menghampiri. Kita tidak dapat mengontrol hal-hal yang akan terjadi. Namun, kita bisa mengontrol pikiran kita, serta cara kita merespon suatu keadaan atau peristiwa. 

Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” –Bilangan 13:32-33

Dikatakan bahwa sepuluh pengintai itu menyebarkan kabar busuk, bahwa tanah Kanaan didiami oleh orang-orang kanibal. Apakah itu benar? Kita tidak tahu. 

Bisa jadi, kesimpulan itu terbentuk berdasarkan pengamatan mereka. Mungkin saja memang masih ada sekelompok kanibal di sana, tetapi bukan berarti semua penduduk kota itu demikian. Namun, lantaran takut, kesepuluh pengintai itu membesar-besarkan fakta. Mereka tidak mengontrol pikiran mereka, dan akibatnya, malah diperbudak oleh rasa takut.

Sering kali, apa yang membuat kita takut adalah pikiran kita sendiri. Kita menyusun skenario, lalu ketakutan dengan hasil imajinasi kita yang melebihi kenyataan atau belum tentu akan terjadi. Pikiran kita membentengi kreativitas dan jalan keluar yang seharusnya bisa dicari oleh otak kita. 

Bahaya Overthinking dan Asumsi

Rasa takut juga bisa muncul akibat penyimpangan persepsi atau asumsi yang tidak benar. Misalnya, ketika melihat gaya berpakaian seseorang yang stylish, kita jadi insecure, tidak percaya diri. Saat melihat panjangnya daftar pekerjaan, kita langsung ketakutan tidak mampu menyelesaikannya. Padahal, seharusnya kita tidak perlu overthinking. Hanya perlu membereskan tugas satu persatu. 

Apa yang saat ini sedang Anda takutkan? Apakah penyebab ketakutan itu adalah buah pikiran Anda sendiri? Sudahkah Anda mengontrol pikiran Anda? 

Ketimbang berpikir berlebihan atau terus mengkhawatirkan situasi yang tak kondusif akibat pandemi ini, lebih baik kerjakan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan dan memperkuat iman. Arahkanlah pikiran Anda kepada solusi, bukan kepada masalah yang dibesar-besarkan.

2. Keyakinan (Faith & Belief) – Periksa Iman Anda

Dua belas orang pergi bersama-sama dan mengintai tanah yang sama, tetapi kembali dengan dua pendapat yang berbeda. 

Yosua dan Kaleb:

Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” – Bilangan 14:6-9

Sepuluh pengintai lainnya:

Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.” – Bilangan 13:31 

Jika kita bandingkan kedua ayat di atas, kita akan menemukan perbedaan yang sangat besar. Apa yang berbeda? 

Iman merekalah yang berbeda.

Ketika kita dilanda rasa takut akan hal apa pun, itulah saat yang tepat untuk merenungkan kembali bagaimana iman kita kepada Tuhan. Mungkin iman kita terlalu kecil sehingga Tuhan pun kelihatan kecil, dan masalah atau pergumulan hidup kita jadi tampak terlalu besar. Inilah yang membuat kita stuck dan tidak dapat berbuat apa-apa. 

Kita harus berhati-hati dengan ketakutan kita, dan juga iman kita. Apa pun yang Anda percayai mempunyai kuasa, dan Anda harus tahu bahwa…

Your Belief Will Come True

Jika ketakutan menjadi pendorong hidup Anda, waspadalah: Anda akan menjadi seperti apa yang Anda percayai

Sadarilah, betapa besar efek rasa takut bagi hidup kita. Tuhan tidak mau kita hidup di dalam ketakutan, karena itu artinya kita tidak beriman kepada-Nya. Bisa jadi, kita seperti bangsa Israel—mengaku mengenal Tuhan, bahkan disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan, tetapi tidak percaya pada kebesaran-Nya dan lebih tunduk pada ketakutan mereka.

Hasilnya? Tuhan membuat satu generasi bangsa itu lenyap di padang gurun dalam kurun 40 tahun. Dari angkatan itu, yang akhirnya sampai ke tanah Kanaan hanya Yosua dan Kaleb. Iman Yosua dan Kaleb itulah yang membuat keduanya win the ticket untuk masuk ke Tanah Perjanjian.  

Ironisnya, ini persis seperti yang mereka katakan:

Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!” – Bilangan 14:2

Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun!” – Bilangan 14:28-30

Jika hari ini ketakutan kita lebih mendominasi pikiran kita, mari ubah hal itu. Gantilah isi pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Bacalah firman Tuhan, ingat janji-janji-Nya, dan jadilah berani. Iman menentukan hasil yang akan kita terima. 

Selain memiliki keberanian, kita juga perlu melakukan satu hal lagi, yaitu…

3. Tindakan (Action)Fight with Confidence

Meskipun Yosua dan Kaleb punya keyakinan, mereka tetap harus turun tangan dan berjuang untuk merebut tanah Kanaan. Mereka perlu maju berperang. Menurut saya, Yosua dan Kaleb bukannya tidak punya rasa takut sama sekali. Mereka juga manusia biasa yang bisa merasa takut, tetapi ketakutan itu tidak mengalahkan mereka. Iman merekalah yang mendorong keduanya untuk bertindak dan meraih kemenangan. 

Action adalah hasil dari pikiran (mind) dan keyakinan (belief) kita. Jika pikiran dan keyakinan kita benar, kita tidak akan takut dan akan melangkah dengan berani. 

Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk. – Yosua 14:10-11

Empat puluh tahun kemudian, iman dan semangat Kaleb masih sama seperti yang dulu. Dan, inilah hasilnya:

Dan Kaleb menghalau dari sana ketiga orang Enak, yakni Sesai, Ahiman dan Talmai, anak-anak Enak. Dari sana ia maju menyerang penduduk Debir. Nama Debir itu dahulu ialah Kiryat-Sefer. – Yosua 15:14-15

Ya, di usianya yang ke-85, Kaleb bisa mengalahkan orang-orang yang dideskripsikan seperti raksasa pemakan manusia oleh sepuluh pengintai lainnya.

Mungkinkah ketakutan yang sedang Anda alami terjadi karena Anda overthinking atau membayangkan skenario yang tidak benar? Kontrol pikiran Anda. Hati-hati, apa yang Anda pikirkan bisa tumbuh menjadi kepercayaan (iman), dan apa yang Anda percayai bisa menjadi kenyataan. Bangun iman Anda lewat pikiran yang benar, yang berasal dari Tuhan. Dan, berjuanglah sekuat tenaga dengan penuh percaya diri, karena Anda punya Tuhan yang luar biasa. Let your faith grow bigger than your fear!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: