Salah satu alasan saya ingin menjadi penulis adalah karena saya suka membaca renungan harian. Namun, terkadang saya merasa ada yang kurang dari pembahasannya. Saat ini terjadi, biasanya saya akan selidiki lebih teliti di Alkitab. Tujuannya, untuk menggali apa maksud Tuhan, memahami sebuah kejadian, atau mencari kaitan temanya dengan ayat atau pasal lain. 

Ini membuat saya paham, baca Alkitab berbeda dengan baca renungan harian. Lho, apa bedanya? Apakah salah kalau kita suka membaca renungan harian?

Keunggulan Baca Firman Tuhan secara Langsung

Membaca renungan harian adalah hal yang baik dan berguna. Kita mendapatkan wawasan rohani dari si penulis renungan, inspirasi tentang apa yang Tuhan sampaikan lewat firman-Nya. Kita juga bisa belajar dari pengalaman hidup penulis renungan, tentang hidup tokoh-tokoh rohani, peristiwa yang tadinya tidak kita tahu ada di dalam Alkitab, dan lain-lain. 

Mazmur 1:1-3 berkata: 

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Jadi, alangkah baik jika Anda suka membaca renungan harian, tetapi akan jauh lebih baik jika Anda juga tekun membaca Alkitab

Inilah hal-hal yang bisa Anda dapatkan dari membaca Alkitab secara langsung: 

Paham Suatu Kejadian Secara Keseluruhan

Saat membaca renungan harian, kita punya kecenderungan untuk terima beres. Setelah dapat secuplik insight dari si penulis, kita enggan menyelidiki temanya lebih lanjut. Padahal, bacaan renungan biasanya hanya membahas satu-dua pasal yang berkaitan. Kita tidak punya kesempatan melihat sebuah rangkaian peristiwa secara keseluruhan sampai tuntas. Akibatnya, kita tidak memetik manfaat lain dari kisahnya, atau mungkin keliru menangkap makna rohaninya.

Mari ambil contoh dari bacaan renungan tentang Yakub yang berbaikan kembali dengan Esau (Kejadian 33:1-20). Temanya adalah saling mengampuni. Jika kita hanya membaca renungannya saja, kita mungkin bingung: apa relevansinya sejarah kedua bersaudara ini dengan hidup kita? Barangkali kita berpikir, “Oh, kalau salah, ya, minta maaf. Selesai.”

Namun, dengan membaca dari pasal-pasal Alkitab sebelumnya, kita akan tahu kronologis peristiwa yang membuat hubungan Yakub dan Esau tidak baik. Bahwa demi mendapat hak kesulungan, Yakub menipu Esau dan ayah mereka, Ishak, dengan menyamar menjadi Esau. Kita jadi tahu betapa marahnya Esau karena tidak mendapat berkat dari Ishak, sehingga ia berencana membunuh Yakub setelah masa berkabung atas wafatnya ayah mereka selesai.

Dengan melihat big picture kisah ini, kita bisa belajar banyak hal. Misalnya, betapa sulitnya bagi Yakub menemui Esau untuk meminta maaf. Bagaimana rasanya jika Anda disuruh mendatangi orang yang mau membunuh Anda untuk minta maaf? Bisakah Anda melakukan apa yang Yakub lakukan—mengalahkan rasa takut dan pergi berdamai dengan musuh Anda? Bisakah Anda memaafkan orang yang bersalah kepada Anda, seperti Esau mengampuni Yakub? 

Membaca Alkitab memberi Anda kesempatan untuk belajar lebih banyak dan bertumbuh. Contohnya, “Wah, Yakub saja berusaha berdamai dengan orang yang berniat membunuhnya. Saya pun tentunya bisa berdamai dan mengampuni orang lain yang mungkin tidak berniat membunuh saya.

Mendapat “Nutrisi” Rohani Secara Utuh

Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. –Mazmur 119:68

Manakah yang lebih Anda pilih: makanan yang bergizi alami atau yang sudah diolah? Jika Anda ingin nutrisi utuh, misalnya sari kelapa segar, Anda perlu mengerahkan usaha. Anda harus mencari penjual kelapa, atau membelah sendiri batok kelapa demi mengakses airnya. Atau, Anda tinggal beli air kelapa instan dalam kemasan. Memang lebih mudah, tetapi nutrisinya sudah ditakar sesuai standar produsennya, tidak 100% persis air kelapa murni.

Makanan alami bergizi utuh adalah Alkitab. Mendapatkan “nutrisi” dari Alkitab memang butuh perjuangan, karena Anda harus menggali dan menggali lebih dalam, supaya Anda dapat mengerti. 

Membaca renungan harian ibarat menyantap makanan olahan atau yang sudah diproses. Penulis renungan hanya menyampaikan apa yang ia pelajari dari Alkitab. Katakanlah ia hanya menuliskan 10% wawasannya, berarti Anda hanya mendapat manfaat maksimal 10% saja. Namun, dengan membaca Alkitab, Anda akan mendapatkan “nutrisi” rohani yang utuh karena kata-katanya berasal dari Tuhan, bukan hasil olahan manusia. 

Ini bukan berarti Anda tidak boleh membaca dari sumber selain Alkitab. Saya pribadi mendapatkan banyak pengetahuan baru melalui renungan harian, artikel rohani, buku, dan tulisan rohani yang tersebar di internet. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan Alkitab. “Menu utama” kita tetaplah firman Tuhan. Menu tambahannya, bisa Anda dapatkan dari mana saja. 

Awalnya, Anda mungkin merasa terbeban karena harus melakukan usaha ekstra dalam menggali manfaat firman Tuhan. Jangan khawatir. Anda bisa minta bantuan pembimbing rohani Anda, atau menghubungi kami lewat kontak di bawah artikel ini. Tidak perlu malu jika apa yang Anda pelajari rasanya masih sederhana. Itu langkah awal perjalanan pribadi Anda dengan Tuhan, yang akan kita bahas di poin selanjutnya. 

Punya Personal Journey Bersama Tuhan

Kita boleh yakin bahwa para penulis renungan harian cukup sering membaca Alkitab dan sedikit-banyak punya hubungan pribadi dengan Tuhan. Dengan demikian, barulah mereka dapat membagikan inspirasi kepada pembacanya. Puji Tuhan, kita dapat melihat bagaimana Allah mengasihi mereka dan bekerja dalam kehidupan mereka.

Di sisi lain, sebagai pembaca renungan, kita pun harus membangun personal journey dengan Tuhan. Kita perlu saksikan sendiri bagaimana firman Tuhan yang kita praktikkan bekerja melalui pergumulan hidup yang kita hadapi dan selesaikan. Kalau kita tidak suka atau jarang membaca Alkitab, sulit bagi kita memiliki perjalanan pribadi bersama Tuhan. Kita akan berpikir dan bertindak menurut pemikiran sendiri, bukan seturut firman-Nya.

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. – Ayub 42:5

Ayub adalah salah satu tokoh Alkitab yang memiliki personal journey dengan Tuhan. Ia pernah merasakan nikmatnya jadi orang kaya yang punya segalanya. Ia juga tahu rasanya jadi pesakit, jadi orang yang melarat dan kehilangan segalanya kecuali nyawanya. Dan, di dalam jatuh-bangun kehidupannya itu, Ayub senantiasa setia kepada Tuhan.

Membaca Alkitab membuat kita mengenal Tuhan bukan berdasarkan pendapat orang, melainkan melalui pengamatan kita sendiri. Kita mengalami sendiri bagaimana firman Tuhan menguatkan, membukakan pikiran, dan memberikan solusi untuk menghadapi tantangan hidup. Pada akhirnya, kita paham bahwa seberat atau sesulit apa pun masalah tersebut, kita tetap mau setia kepada-Nya.

Mari, biasakan membaca Alkitab secara langsung, bukan hanya melalui renungan harian. Dengan demikian, kita dapat menggali inspirasi secara menyeluruh, mendapat santapan rohani secara utuh, dan membangun perjalanan pribadi bersama Tuhan. Amin!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: