gkdi lagu

Hidup dengan pikiran yang dipenuhi asumsi biasanya melelahkan. Sesuatu yang kita asumsikan berarti masih berupa dugaan yang belum tentu benar, tetapi kita sudah berpikir terlalu jauh. Asumsi sepihak juga dapat memengaruhi sikap dan perbuatan kita terhadap seseorang. 

Berasumsi terhadap orang lain saja sudah melelahkan, apalagi terhadap pasangan hidup, yang setiap hari bertemu. Asumsi buruk terhadap pasangan akan membangun tembok di dalam hati seseorang. Membuat ia merasa lebih tahu, bahkan menghakimi pasangannya, sehingga tidak jarang berujung pada konflik pernikahan. Pembahasan artikel ini menitikberatkan pada sudut pandang istri, tetapi poin-poinnya juga dapat diterapkan oleh para suami yang mungkin tanpa sadar sering berasumsi terhadap istri mereka.

Mengapa berasumsi itu tidak baik dan asumsi macam apa yang harus kita hindari dalam hubungan pernikahan?

Bahaya Asumsi

Malam itu kami mengadakan sesi devotional atau saat teduh keluarga. Ini kebersamaan yang singkat, hanya 20 menit, sudah termasuk menonton film selama sepuluh menit. Sementara suami saya mengunduh film yang sesuai dengan topik firman Tuhan yang akan dibawakan, saya mengeluarkan laptop, bermaksud mengerjakan sesuatu seusai sesi. Namun, saya heran, kenapa ransel laptop saya terbuka?  

Saya merogoh ke dalam ransel, dan benar saja: mouse (tetikus) saya tidak ada. Saya lirik laptop suami dan mendapati mouse saya terhubung ke sana. Pasti mouse-nya hilang lagi, keluh saya. Duh, suamiku itu memang pelupa. Enggak telaten merawat barang. Baru beli, sebentar kemudian sudah rusak atau hilang …

Gerutuan batin itu terhenti saat saya menemukan mouse saya di kantong ransel yang lain. Kalau saja benda itu tidak ketemu, saya pasti akan terus berpikir negatif. Padahal, masih ada kemungkinan lain. Ketinggalan di kantor, misalnya. Segalanya akan lebih jelas, kalau saja saya bertanya kepada suami, alih-alih berprasangka.

Asumsi membuat saya merasa lebih tahu tentang pasangan saya. Saya juga merasa lebih pandai menjaga barang. Akibatnya, saya menghakimi suami dan mengungkit kelemahannya. Asumsi tidak menunjukkan bahwa saya lebih baik, tetapi justru menunjukkan keburukan saya.

Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut. – Amsal 16:25

Ingat, Anda dan Pasangan Adalah Satu

Beberapa kali, saat hendak berangkat ke kantor, kunci motor atau mobil kami hilang, alias tak jelas ada di mana. Kadang saya merespon dengan omelan, “Kamu selalu saja begitu. Makanya, taruh barang pada tempatnya.” Atau, saya tidak mengomel, tetapi sorot mata saya tajam dan wajah saya masam, membuat suami semakin lupa di mana dia menaruh kuncinya.

Sebenarnya saya punya pilihan sikap yang lebih baik. Daripada memasang raut kesal, saya bisa membantu suami berpikir, kira-kira di mana dia meletakkan kuncinya. Lebih baik lagi jika saya bantu mencari. 

Memiliki pasangan yang pelupa, berarti Tuhan menugaskan saya untuk menolongnya. Tuhan tidak mengangkat saya menjadi hakim atas suami saya. Jadi, saya tidak berhak menghakiminya, baik dalam pikiran, lebih-lebih perbuatan.

Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. – Amsal 31:12

Di lain hari, heboh kehilangan kunci ini terjadi lagi. Kali ini, dengan berpegang pada ayat di atas, saya coba memberikan respon yang berbeda. “Coba lihat di saku celana yang kamu pakai waktu ke warung tadi, barangkali ada di situ,” kata saya dengan lembut. Dan, sesuai dugaan, kunci itu teronggok manis di dalam keranjang cucian. 

Memandang pasangan sebagaimana Anda memandang diri sendiri akan membantu Anda lebih bertoleransi. Suami Anda tidak sempurna, sama seperti Anda pun tidak sempurna. Berikan ruang baginya untuk melakukan kesalahan. Lupa menaruh barang jangan selalu dijadikan masalah, tetapi jadikanlah kesempatan melatih kesabaran dan menunjukkan penerimaan Anda. 

Saya sendiri tak luput dari yang namanya lupa. Bahkan, saya pernah mencari-cari kacamata saya, yang jelas-jelas gagangnya terselip di belakang telinga, alias tersandar di kening. Namun, suami tidak mengomel atau mencela. Sambil tersenyum, dia berkata, “Enggak apa, sayang. Jadi, kalau kelak saya lupa, jangan marah-marah, ya.” Jleb. Saya jadi malu sendiri. 

Ingatlah, suami dan istri telah dipersatukan dalam pernikahan. Itu artinya kelemahan suami juga menjadi kelemahan istri, dan kelemahan istri juga menjadi kelemahan suami. Karena itu, janganlah membenci atau merendahkan pasangan, tetapi tolonglah dia dengan kasih.

Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat. – Efesus 5:29

Alih-alih bersikap reaktif, pilihlah untuk menjadi proaktif. Anda mengantisipasi supaya masalah yang sama tidak terulang lagi. Contoh, sebagai solusi urusan kunci, saya memasang sebuah gantungan di dekat pintu masuk. Sesampai di rumah dan memarkir kendaraan, suami saya jadi ingat untuk langsung menaruh kunci di gantungan tersebut. 

Ketika pasangan berkali-kali melupakan sesuatu, ingatkan dengan cara yang baik. Kalau Anda konsisten mengingatkannya, lambat-laun hal itu akan menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh pasangan Anda.

Satu, tapi Tak Sama

Meski telah dipersatukan dalam pernikahan, suami dan istri tetaplah tidak sama. Tuhan menciptakan pria dan wanita berbeda, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam cara berpikir. Kebanyakan wanita cenderung mengandalkan perasaan, dan sebaliknya, kebanyakan pria lebih mengutamakan logika. Wanita umumnya lebih mudah khawatir atau panik, sedangkan pria lebih tenang menghadapi masalah

Perlu diingat, kecenderungan gender di atas bukanlah tolok ukur pasti. Tidak semua wanita dan pria seperti ini. Ada istri yang selalu tenang, sementara suaminya gampang cemas atau gusar. Ada istri yang cuek, sementara suaminya apik menata barang. Ada juga istri yang logis, sedangkan suaminya lebih perasa. Intinya, Anda dan pasangan memiliki kepribadian berbeda, sesuatu yang sebenarnya patut Anda syukuri.

Misalnya, anak Anda jatuh dari sepeda dan kakinya berdarah. Anda panik, suami juga panik; bisa jadi masalah akan semakin runyam. Jadi, bersyukurlah karena Anda dan pasangan Anda berbeda. Saat istri panik, suami menenangkan. Saat suami terlalu cuek, istri mengingatkan agar lebih waspada atau antisipatif. 

Berikut dua asumsi umum yang berpotensi memicu konflik dalam rumah tangga: 

1. “Dia Seharusnya Ingat”

Mungkin tak banyak suami yang mengingat momen-momen istimewa seperti hari jadian, ulang tahun pernikahan, bahkan tanggal lahir istri mereka. Memang, tak salah jika Anda berharap mendapatkan kejutan dari suami. Namun, bersiaplah untuk kecewa ketika ternyata dia tenang-tenang saja di hari H.

Daripada mengambil risiko sakit hati, lebih baik ingatkan suami soal momen spesial dan sampaikan harapan Anda. Ungkapkan bahwa Anda ingin pergi berduaan saja, atau ingin diberi hadiah tertentu. Jangan bebani suami untuk menangkap isyarat yang Anda berikan. Kemungkinan besar dia takkan bisa membaca “kode keras” Anda. Malahan, dia akan kaget menemukan Anda berurai air mata, lalu dengan polosnya bertanya, “Ada apa?”

2. “Dia Seharusnya Paham”

Sebagian suami mungkin kurang peduli dengan sisi estetika hunian sebagaimana para istri. Mereka tidak terampil meletakkan sepatu di rak atau sering lupa menutup makanan dengan tudung saji. Mereka juga tak segan meletakkan sendok bekas menyeduh kopi di atas bak cuci piring yang baru Anda bersihkan sampai kinclong. Bagi suami, yang penting tujuan tercapai: sendok di tempat cuci piring, sepatu di “sekitar area yang ditentukan.” 

Sementara asumsi istri? Suami seharusnya paham kalau istrinya baru saja selesai mencuci setumpuk piring kotor—apa salahnya bantu mencuci sebuah sendok makan? Istri sudah berjuang menyetrika sekeranjang pakaian, tapi mengapa suami tidak berhati-hati mengambil kemeja dari lemari, membuat tumpukan baju jadi oleng atau runtuh seperti habis kena badai?

Ketimbang marah-marah karena suami tidak memperhatikan hal-hal detail, lebih baik Anda beritahu cara melakukannya. Bisa juga, tawarkan diri untuk mengambilkan pakaian atau benda yang suami inginkan dari tempat yang Anda harapkan tetap rapi. Selain lebih romantis, baju-baju Anda dan suami juga aman dari ancaman berantakan. 

Daripada lelah berasumsi tentang sesuatu, lebih baik tanyakan langsung kepada pasangan Anda. Sampaikan harapan Anda dengan baik, atau berdiskusilah untuk menemukan solusi. Walaupun berbeda, Anda dan pasangan adalah satu. Jangan biarkan asumsi merusak hubungan pernikahan Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.

Contoh: Setiabudi, Jakarta Selatan

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: