Umumnya orang setuju bahwa anak adalah anugerah yang berharga. Hampir semua pasangan menikah (khususnya di Indonesia) ingin memiliki anak.

Kehadiran anak memang membawa kebahagiaan dalam keluarga. Namun, kebahagiaan ini juga sepaket  dengan kerepotan di sana-sini. Menerima kehadiran sesosok makhluk kecil yang tak berdaya tentu bukan hal mudah. Pasangan yang tadinya leluasa bepergian jadi punya ruang gerak terbatas setelah memiliki anak. Energi dan hari-hari mereka pun habis untuk pengasuhan anak.

Ironisnya, anak sering dijadikan alasan untuk berhenti melayani Tuhan. “Duh, anak kami sedang aktif-aktifnya. Kami kewalahan. Untuk sementara kami mundur dari pelayanan.”

Kalau anak adalah anugerah, mengapa kehadirannya menjadi penghalang dalam melayani Tuhan?

Mendidik Anak Adalah Tugas Mulia

anak - gkdi 1

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. – Roma 12:11

Tak jarang, ada orang yang berapi-api di masa mudanya, setelah menikah dan punya anak, semangat pelayanannya redup bahkan nyaris padam. Orang yang dulu rajin melayani kini mulai mengurangi kapasitasnya.

Menjadi orang tua bukanlah pekerjaan mudah. Tidak ada kurikulum sekolah yang menyiapkan seseorang menjadi orang tua. Semuanya berjalan secara alami, sehingga tak sedikit orang menjadi frustasi setelah berkeluarga. Mundur dari pelayanan seakan-akan menjadi solusi terbaik.

Fase pertumbuhan anak memiliki tantangannya masing-masing. Tak hanya sampai masa balita, tantangan itu tetap hadir di masa praremaja dan remaja anak-anak kita—bahkan terasa lebih berat, apalagi di zaman ketika semua informasi terbuka dan bisa diakses dari mana saja.

Mendidik anak untuk mengenal Tuhan, lewat hidup kita sebagai orang tua, adalah tugas yang paling utama. Orang tua yang ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya harus bergantung pada Tuhan, belajar dari satu sama lain, sambil tetap memberikan kontribusi positif dalam komunitas rohani.

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. – Efesus 6:4

Apa yang Menghalangi Pelayanan?

Jika Anda berpikir untuk mundur dari pelayanan dengan alasan anak, cobalah cek beberapa hal berikut. Apakah, jangan-jangan, selama ini Anda:

1. Khawatir Berlebihan

anak - gkdi 2

Orang tua muda umumnya akrab dengan fenomena anak demam, batuk-pilek, dan semacamnya. Hal ini wajar, mengingat anak sedang dalam masa tumbuh-kembang dini dan penyempurnaan organ tubuh.

Namun, tak perlu khawatir berlebihan. Kalau anak sakit, kunjungi dokter, lakukan penanganan cepat, maksimalkan asupan bergizi, dan selalu jaga kebersihan.

Tidak perlu menghindar dari ibadah atau mengurung diri di rumah karena takut anak tertular penyakit. Orang tua yang terlalu khawatir bisa jadi sedang menularkan ketakutan kepada anaknya sendiri.

2. Malas

anak - gkdi 3

Kehidupan kita sewaktu lajang dan saat menjadi orang tua tentu berbeda. Orang tua harus lebih sigap mengerjakan segala sesuatu. Bangun lebih pagi dan kerjakan lebih banyak hal. Mungkin ini memotong jam istirahat kita, tetapi demi mengurus keluarga, ada harga yang harus dibayar.

Hanya orang yang mampu mengurus rumah tangga sendiri yang bisa melayani dan memberkati orang lain. Inilah gambaran sosok istri yang cakap di Amsal 31:27: Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

Mungkin Anda bukannya tidak punya waktu, tetapi belum dapat mengalokasikan waktu dengan baik. Untuk itu, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

3. Memanjakan Anak

anak - gkdi 4

Menyayangi dengan memanjakan adalah dua hal berbeda. Anak yang terlalu dimanja akan menjadi penakut dan tidak mandiri. Segala hal selalu bergantung pada orang tua, membuat energi ayah-ibunya terkuras sehingga tak ada yang tersisa untuk pergi keluar dan melayani sesama.

Pelajarilah batas antara menyayangi dan memanjakan demi kebaikan anak dan Anda sendiri.

4. Defensif: “Daripada Mengganggu …”

anak - gkdi 5

Ada yang berpikir, “Daripada anakku mengganggu dan aku tidak bisa menikmati ibadah, lebih baik kami di rumah saja.”

Alih-alih berpikir begitu, kenapa tidak membuat antitesisnya saja? “Bagaimana agar aku tetap bisa beribadah dan anakku tidak mengganggu?” Atau, mintalah saran dari saudara-saudari yang sudah berkeluarga atau pembimbing Anda; siapa tahu mereka punya strategi jitu dalam hal ini.

Memang tidak ada panduan resmi menjadi orang tua yang baik, tetapi dengan hikmat dari Tuhan, kita bisa menanganinya dengan bijak.

Start From Home

anak - gkdi 6

Segala sesuatu dimulai dari rumah. Jangan berharap anak kita akan manut dan tahu tata krama di gereja, kalau tidak pernah dididik untuk patuh di rumah.

Jadilah sahabat yang menyenangkan bagi anak, sekaligus disegani. Dengan demikian, anak tidak hanya merasa dekat, tetapi juga hormat kepada kita, orang tuanya. Rasa hormat akan membuat anak mau mendengarkan nasihat atau bimbingan kita, tanpa merasa terpaksa atau karena takut.

Biasakan buat kesepakatan dengan anak, termasuk untuk tidak mengganggu ketika ibadah berlangsung. Kerja sama suami-istri sangat penting dalam kesepakatan ini. Anak harus tahu bahwa ayah dan ibunya memiliki standar yang sama, sehingga tidak mencari perlindungan kepada salah satu pihak ketika ia melanggar aturan.

Jangan bersembunyi, tetapi jadilah orang tua yang percaya diri (kalau harus) membawa anak ke acara ibadah. Karena, di sanalah kepatuhan anak dan kesabaran orang tua (yang telah dilatih di rumah) sama-sama diuji.

Mendidik Anak Adalah Pelayanan Itu Sendiri

anak - gkdi 7

Tidak perlu merasa buruk atau gagal kalau karakter anak belum sesuai harapan kita. Selama kita mau belajar, akan selalu ada harapan. Teruslah memberi diri dalam pelayanan, sambil berbenah diri dalam tugas keayahbundaan yang kita jalankan.

Daripada mengeluhkan sulitnya mendidik anak, syukurilah terlebih dahulu bahwa Anda dipercayai Tuhan menjadi orang tua. Bahkan, Tuhan saja percaya bahwa Anda mampu menjalankan tanggung jawab Anda dengan baik.

Dalam pergumulan kita untuk menjadi orang tua yang baik, kita tak perlu jeda melayani. Pelayanan di luar rumah dan pelayanan dalam keluarga adalah paket yang tidak terpisahkan. Mendidik anak dengan baik adalah bentuk pelayanan kita kepada Tuhan.

Anak adalah utusan Tuhan untuk menyempurnakan karakter kita sebagai  pribadi atau orang tua yang lebih baik. Anak adalah saksi pertama apakah firman Tuhan hidup dalam diri kita. Dan, anak adalah penyemangat kita untuk terus melayani Tuhan. Amin!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Saat Kenyataan Tak Sejalan dengan Doa

Video inspirasi: