Melihat anak tumbuh dengan kecerdasan emosi yang baik adalah impian para orang tua. Namun, tidak semua orang tua paham atau langsung bisa menerjemahkan keinginan ini dalam kehidupan nyata. Sebagian orang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kurang kondusif secara emosional. Dan, setelah berkeluarga, mereka tidak tahu atau bahkan tidak peduli akan pentingnya fungsi emosional yang baik bagi anak.

Padahal, penelitian membuktikan bahwa anak yang menumbuhkan keahlian emosional sejak usia dini bisa lebih sukses di masa depan. Sebaliknya, kurangnya perhatian atas fungsi emosional anak dapat menjadi akar masalah saat mereka dewasa, seperti kecanduan narkoba dan kecenderungan melakukan kekerasan.

Lantas, langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan orang tua agar anak sehat secara emosi?

Terapkan 4B

Selama masa pandemi, putra kami yang berusia tujuh tahun belajar secara online dari rumah. Saat jam istirahat, ia mengutak-atik ponsel dan bermaksud mengirimkan pesan-pesan emotikon untuk ayahnya. Apa daya, ia salah mengirimkannya ke grup belajar. Dengan cemas, buru-buru ia hapus semua pesan itu, tetapi beberapa detik kemudian, wali kelasnya menelepon, membuatnya semakin ketakutan.

Seraya mendatangi saya dengan wajah pucat, ia menyerahkan tabletnya dan berkata, “Mama, tolonglah ketikkan permintaan maafku. Bilang aku salah kirim pesan.”

Impuls pertama saya adalah ingin memarahinya habis-habisan. 

Namun, karena saya dan suami berupaya mendidik anak kami agar ia punya kualitas emosi yang sehat, kami menanggapi masalah ini melalui prinsip 4B: 

1. Beraksi, Bukan Bereaksi

Saya terkejut melihat banyaknya pesan yang dihapus putra kami dari grup belajarnya. Saya kesal karena ia tidak patuh pada peringatan saya untuk berhenti mengirim pesan-pesan emotikon yang tak jelas tujuannya. 

Namun, melihat wajahnya yang pucat dan bagaimana ia merasa begitu bersalah, kekesalan saya seketika hilang. Putra saya sudah merasa malu dan takut; haruskah saya tambah dengan teriakan marah? Bukankah itu hanya akan menghancurkan perasaannya?

Segera saya bantu ketikkan permohonan maaf (karena tangannya gemetar dan tidak sanggup mengetik), lalu menariknya ke pelukan saya. Ya, pelukanlah yang ia butuhkan, bukan omelan. Tangisnya langsung pecah, menandakan ia sudah menahan gejolak emosinya sejak tadi.

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. – Efesus 6:4

Saya yakin firman ini juga berlaku untuk para ibu yang umumnya dekat dengan anak mereka. Kalau saja tadi saya menyudutkan anak saya, bukan hanya menjadi down, ia mungkin akan marah, tidak jadi menyesal, bahkan menaruh dendam kepada saya.

Sebagai seorang ibu, saya berharap anak saya bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosi. Tidak penakut, jauh dari trauma, berani mencoba hal-hal baru, dan berani menerima risiko saat melakukan kesalahan. Dah, semua itu ditentukan oleh respon saya dan suami sebagai orang tua.

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beraksi, bukan bereaksi. Artinya, saya mengambil sikap yang benar, alih-alih membiarkan emosi saya terpancing. Saya ucapkan kata-kata yang menyejukkan hatinya, lalu meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Syukurlah, beberapa menit kemudian anak saya kembali tenang dan bisa lanjut belajar.

2. Bekerja Sama dengan Pasangan

Sudah seharusnya ayah dan ibu memiliki standar yang sama dalam mengasuh anak. Orang tua harus bekerja sama, sesuai peran masing-masing, untuk mendidik anak agar sehat secara emosi. Sangat tidak baik jika salah satunya peduli, sementara yang lain mengabaikan. Anak harus tahu bahwa orang tuanya memiliki aturan yang sama, sehingga tidak ada yang menjadi monster atau malaikat di matanya. 

Dalam hal ini, saya berikan pengertian kepada anak saya bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi. Yang penting, ia minta maaf dan berusaha tidak mengulangi perbuatannya. Selanjutnya, suami saya melakukan bagiannya dengan mengambil waktu untuk memproses perasaan anak kami. Mereka berjalan ke luar ruangan sebentar dan berbincang santai. 

Ayah dan ibu harus selalu update dengan kondisi atau masalah yang dihadapi anak. Dengan demikian, mereka akan tahu area emosional mana yang sudah berhasil ditumbuhkan dalam diri anak, dan mana yang masih perlu dikembangkan. Kerja sama yang baik akan membuat proses pembentukan emosi yang sehat bagi anak menjadi lebih mudah.

3. Berempati dengan Anak

Salah satu kesalahan yang sering tanpa sadar dilakukan orang tua adalah menyepelekan. Ketika anak kelihatan baik-baik saja setelah terjadi sesuatu, orang tua merasa aman. Padahal, bisa jadi anak memendam kesedihan atau menyimpan ketakutan dalam hati. Hal ini tidak akan terungkap kalau orang tua tidak mencari tahu. 

Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya. – Amsal 20:5

Untuk memahami perasaan anak-anak, pakailah kacamata anak-anak. Bagaimana Anda ingin diperlakukan kalau Anda jadi mereka? Ketika anak terbuka dengan perasaannya, jangan pernah katakan, “Ah, gitu aja takut. Gitu aja nangis, dasar cengeng,” dan kata-kata lain yang tidak membangun. Anak akan berpikir bahwa perasaan dan isi hatinya tidak penting bagi orang tua, sehingga ia memilih tertutup dan hidup dalam ketakutan/rasa malu/kekhawatirannya sendiri.

Lebih jauh, orang tua juga harus jeli dan kreatif “menimba” sumur hati anaknya. Pancinglah anak bercerita dengan terlebih dahulu menciptakan suasana yang menyenangkan, jauh dari kesan meneror. Ceritakan kenangan masa kecil Anda yang relevan dengan masalah yang dialami anak. Katakan bahwa Anda juga pernah melakukan kesalahan dan pernah merasa takut

Dengan berempati, anak tidak akan merasa sendirian atau tersudut. Ia justru terhibur, mengetahui orang tuanya juga pernah mengalami hal yang kurang mengenakkan. Anak akan merasa tenteram karena ia diterima dan dihargai apa adanya. 

4. Biarkan Anak Menyimpulkan Sendiri

Alih-alih menguraikan poin-poin pembelajaran yang ingin Anda tegaskan, lebih baik minta anak menarik kesimpulan dari apa yang terjadi. Dari kesimpulan anak, Anda dapat membaca sejauh apa pemahamannya akan situasi tersebut. 

Dengan menyimpulkan sendiri, biasanya anak akan lebih ingat pelajaran berharga dari pengalamannya, dan Anda akan terhindar dari citra orang tua cerewet. Anda hanya perlu menambahkan, jika menurut Anda ada poin-poin yang kurang ia perhatikan.

Ungkapkan rasa bangga Anda karena anak berani menghadapi ketakutannya. Puji dia karena berani mengakui kesalahannya. Beri dukungan bahwa ia bisa menerapkan pelajaran yang ditariknya. Yakinkan anak bahwa Anda tetap mengasihinya, meski ia berbuat salah.

Kelak, ketika anak melakukan kesalahan yang lain, ia akan mencari Anda untuk bercerita dan mencari solusi—bukannya berbohong, mengurung diri, apalagi sampai putus asa.

Kendati idealnya berjalan seiring dengan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional berperan besar dalam menentukan kualitas hidup dan kebahagiaan anak Anda, kini dan nanti. Jangan lelah mendidik anak seawal mungkin. Semakin dini intervensi orang tua terhadap kesehatan emosional anak, semakin besar dampak positif yang bisa ia nikmati di berbagai area hidupnya di kemudian hari.

Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya. – Amsal 19:18

Referensi:
www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4605168/

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: