Ambisimu: Teman atau Lawan? – Gereja GKDI

Gereja gkdi lagu

Jika Anda mendengar kata ambisi, atau mendengar seseorang memiliki ambisi, apa yang terlintas di benak Anda?

Ambisi adalah satu kata yang memiliki banyak arti. Menurut KBBI, ambisi berarti memiliki keinginan besar untuk memperoleh, melakukan, atau menjadi sesuatu. Namun, di sisi lain, ambisi juga bisa berarti ‘bersungguh-sungguh, berkeinginan kuat,’ bahkan sampai mengorbankan hal-hal lain untuk mencapai tujuannya.

Terlepas dari efeknya, setiap orang tentu memiliki ambisi yang ingin ia capai dalam hidupnya. Motifnya bisa bermacam-macam, mulai dari mencapai jabatan yang lebih tinggi atau cita-cita pribadi, seperti menjadi penyanyi. Tentu, ini alami dan tidak salah. Apalagi zaman yang terus berkembang, membuat setiap orang terus berpacu dengan waktu demi memperoleh keberhasilan. Kaisar Romawi, Marcus Aurelius, pernah berkata, “Manusia itu dinilai dari ambisinya.”

Akan tetapi, tanpa sadar, ambisi yang berlebihan bisa membuat seseorang ‘buta.’ Begitu fokusnya ia mencapai tujuan, ia bisa melupakan semua hal lain kecuali tujuannya tersebut. Impian atau tujuan pun berubah menjadi obsesi yang bisa-bisa menghancurkan hidupnya. Kita tidak mau itu terjadi bukan? 

Sebelum hal itu terjadi, alangkah baiknya kalau kita bisa sadar akan tanda-tanda ambisi yang berlebihan, alias tidak sehat itu. Tujuannya, agar ambisi tersebut tidak menjadi toxic bagi diri kita dan hubungan kita dengan Tuhan.

Apa tandanya jika ambisi kita mulai tidak sehat? Kita akan belajar dari Adonia, anak dari Raja Daud, tentang bahayanya ambisi yang tidak sehat.

1. Menghalalkan Segala Cara

ambisi-gereja-gkdi 1

Berusaha keras untuk mencapai tujuan itu wajar. Itu membuktikan, bahwa kita serius untuk menggapai apa yang menjadi impian kita. 

Namun, dalam perjalanan kita mewujudkan tujuan itu, bagaimana jika motivasi kita menjadi tidak sehat? Bagaimana jika hati kita menjadi tidak benar, sehingga kita menghalalkan segala cara?

Mari kita melihat kisah Adonia. Menurut 2 Samuel 3:2-5, Adonia adalah anak laki-laki Daud. Ia berpeluang menjadi raja, karena kakak-kakaknya, yaitu Absalom, Amnon, dan Kileab sudah meninggal atau tidak lagi tercatat. Namun, apa yang ia lakukan?

Tertulis di 1 Raja-raja 1:5-6, “Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: ‘Aku ini mau menjadi raja.’ Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegur dia dengan ucapan: ”Mengapa engkau berbuat begitu?” Ia pun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom.”

Kita bisa melihat bahwa Daud tak pernah mendisiplinkan Adonia. Kemungkinan besar ia menjadi seorang yang selfish, egois. Keegoisan itu menuntun dirinya untuk menjadi raja, dengan cara apapun, tak peduli baik atau buruknya.

Adonia pun mengundang Yoab, pemimpin pasukan, Abiatar, imam besar, bersama banyak pegawai dan pejabat agar diakui sebagai raja. Namun, apa yang Adonia lakukan ternyata tidak sah. Mengapa? Karena di ayat 13, Daud sudah menunjuk Salomo sebagai penerusnya.

Berkaca dari kisah Adonia, kita perlu bertanya: apakah demi mengejar ambisi kita, kita menjadi pribadi yang melakukan apapun, bahkan apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan?

Suatu hari, saya pernah ditawari pekerjaan yang sangat bagus. Akan tetapi, untuk bisa diterima, saya harus membayar sejumlah uang. Saya pikir ini tidak masalah, karena masa depan saya akan lebih baik. Masa depan saya terjamin dan hidup saya akan stabil.

Tanpa pikir panjang, tanpa meminta nasihat, saya pun rela memberi uang tersebut. Namun pada akhirnya saya ditegur. Dan saya sadar ini tidak benar dimata Tuhan. Singkat cerita, saya tidak jadi bekerja di instansi tersebut. Dari sini saya belajar, bahwa menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi atau tujuan tidaklah benar di mata Tuhan. 

Bagaimana dengan hidup kita? Apa yang kita lakukan untuk mengejar ambisi kita? Apakah kita bekerja dari pagi sampai malam, mengorbankan waktu bersaat teduh dengan Tuhan? Mengorbankan kesehatan kita? Mengorbankan waktu dengan keluarga? Apakah kita melakukan segala cara, bahkan yang tidak benar pun, hanya demi mencapai apa yang kita inginkan? 

Mari kita mengejar ambisi dengan cara yang sehat. Bekerja cerdas dan bekerja keraslah dalam batasan yang wajar. Yang terpenting, kita lakukan dengan takut akan Tuhan dengan sepenuh hati. Niscaya, Tuhan akan memberkati setiap pekerjaan tangan kita. 

2. Menggunakan Hikmat atau Cara Sendiri

ambisi-gereja-gkdi 2

Selanjutnya, apa yang diperbuat oleh Adonia? “Maka berundinglah ia dengan Yoab, anak Zeruya dan dengan imam Abyatar dan mereka menjadi pengikut dan pembantu Adonia (1 Raja-Raja 1:7).” Ia mengajak Yoab, selaku pemimpin tentara, dan Abyatar, imam besar, untuk memuluskan langkahnya.

Saya meyakini, Adonia tidak mempertimbangkan matang-matang apa yang hendak ia lakukan. Tidak meminta nasihat dari orang-orang yang tepat. Bahkan, dia juga tidak memberitahukan serta meminta restu ayahnya, Daud, ketika ia berencana ingin menjadi raja (1 Raja-Raja 1:18). 

Tidak juga ia mempertimbangkan rencananya di hadapan Tuhan. Akhirnya Tuhan menggagalkan ambisi Adonia, karena sejak awal, Salomo-lah yang telah dipilih untuk menjadi raja menggantikan Daud (1 Raja-Raja 1:17, 29, 30). 

Salomo-lah yang diakui sebagai raja (1 Raja-Raja 1: 38-40). Pada akhirnya, karena Salomo menganggap Adonia sebagai ancaman, ia akhirnya dibunuh (1 Raja-Raja 2:25).

Sadar atau tidak sadar, kita bisa juga bertindak seperti Adonia. Kita menginginkan sesuatu. Lalu kita bertindak dengan cara kita sendiri. Kita tidak minta nasihat. Atau kita sengaja mencari nasihat dari orang-orang yang pasti akan mendukung kita. Sebenarnya, kita bukan sedang minta nasihat, tetapi minta didukung  atau di-approved, apapun yang kita lakukan. 

Ambisi yang berlebihan membuat kita tak mampu melihat, apakah kita berbuat benar atau salah. Selain itu, ambisi berlebihan juga dapat membuat kita berencana tanpa nasihat yang matang. Kita pun jadi jauh dari Tuhan. Sementara Alkitab sendiri berkata, “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu (Ams. 3:6).”

Mari kita rendah hati, meminta nasihat dari orang yang tepat dan meminta hikmat dari Tuhan. Agar Ia sendiri yang “meluruskan” jalan kita.

Ambisi: Teman atau Lawan?

ambisi-gereja-gkdi 3

Ambisi dapat menjadi teman atau lawan. Ia dapat menjadi bahan bakar yang dapat membakar semangat kita untuk bergerak. Tetapi ambisi yang berlebihan atau tdiak sehat, yang tidak sesuai kehendak Tuhan, justru dapat menghancurkan kita. 

Mudah saja untuk membedakannya. Tanyakan kepada diri sendiri, tujuan, untuk apa, dan untuk siapa kita mengejar ambisi tersebut. Jika tujuannya semata-mata hanya untuk memuaskan kepentingan pribadi, bisa jadi itu adalah ambisi yang egois. Jika begitu, tidak heran, kita bisa menghalalkan segala cara dan menggunakan hikmat sendiri untuk mendapatkannya. 

Hidup ini tetap butuh ambisi. Tanpanya, mungkin kita akan menjadi orang yang “hidup segan, mati tak mau.” Namun, pastikan ambisi kita sejalan dengan ambisi Tuhan. Misalnya, ambisi untuk mengajak orang kenal Tuhan, memaksimalkan talenta untuk Tuhan, mengasihi sesama, adalah hal yang sangat baik. Dan yang tidak kalah penting, cara mencapainya juga harus tepat, yaitu yang sesuai kehendak Tuhan. Tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. 

Dengan begitu, ambisi kita dapat menjadi kawan, bukan lawan! Semangat!

– 

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok