Dua perkara utama manusia adalah perkara jasmani dan perkara rohani. Satu dengan yang lainnya selalu dapat dianalogikan, tetapi perkara rohani jelas lebih utama dari pada perkara jasmani. Meski demikian, kebanyakan manusia lebih fokus pada perkara jasmani. Lebih parah lagi adalah bahwa seringkali hal ini dialami diantara orang-orang yang disebut rohaniawan atau religius.

Tuhan Yesus suatu kali menyembuhkan orang yang sudah lumpuh sekian lama, tetapi dalam kisah itu terselip kelumpuhan rohani yang ternyata jauh lebih parah yang justru dialami oleh para pemuka agama dan rohaniawan masa itu. Yang sakit jasmaninya disembuhkan oleh Tuhan Yesus bersamaan dengan kesembuhan rohaninya, tetapi ahli Taurat tetap lumpuh secara rohani.

Mungkin kita bukan orang lumpuh fisik itu, tetapi mungkinkah kita yang lumpuh rohani itu?

Matius 9:5 Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? 6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”– lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” 7 Dan orang itupun bangun lalu pulang.

Sebenarnya Tuhan Yesus mengadakan 3 hal dalam peristiwa ini, yakni: 1. Pengampunan dosa orang miskin, 2. Pengungkapan pikiran-pikiran tersembunyi. 3. Penyembuhan seorang lumpuh secara instan dan total. Tetapi dasar orang yang lumpuh rohani, tak satupun dari mujizat itu yang menyentuh hati dan hidup mereka. Mujizat yang membuat mata orang lain terarah kepada Tuhan, tetapi mereka justru menampakkan kelumpuhan mereka dari hal berikut:

1. Tidak mampu melihat hal yang baik

Orang-orang yang lumpuh rohani selalu melihat hal-hal yang buruk. Tanpa mereka sadari mereka sedang mengundang hal buruk terjadi atas hidup mereka. Murka Tuhan sangat jelas atas mereka yang memilih bersikap demikian.

Dalam kebersamaan kita dengan orang lain, baik dalam keluarga di gereja atau di kantor, pertanyaannya adalah apakah yang menjadi fokus perhatian dan pembicaraan kita? hal buruk atau hal baik? Semakin mampu kita melihat hal baik tentang orang lain, tentang Tuhan dan tentang hidup serta menceritakannya kepada orang lain maka kita akan semakin sembuh dari lumpuh rohani.

2. Tidak mampu untuk mengatakan yang sebenarnya

Tuhan Yesus tahu perkataanNya akan memicu respon sedemikian di dalam hati orang-orang yang beragama ini tetapi Tuhan Yesus dengan sengaja memperkatakannya sebab Dia mau menyatakan apa yang benar apapun resikonya. Sekiranya tidak ada yang menyatakan kebenaran maka yang dirugikan jelas adalah Tuhan sendiri. Dia yang adalah kebenaran tidak boleh didiamkan begitu saja, harus dibicarakan dan dinyatakan dengan sungguh-sungguh.

Itu sebabnya, kita yang percaya padaNya harus berbicara tentang kebenaranNya itu sehingga orang lain mengerti apa yang benar dan memilih kebenaran itu bagi hidup mereka. Tuhan tidak akan tinggal diam bila kita mengatakan kebenaran. Dia pasti akan membela kita. Tetapi mereka yang rohaninya lumpuh, jangankan mengatakan apa yang benar, mendengar kebenaran sajapun mereka tersinggung dan bereaksi dengan tidak baik.

3. Tidak mampu untuk bangkit

Jika orang lumpuh itu segera bangkit setelah Yesus mengampuni dosanya, tetapi orang yang lumpuh secara rohani ini tidak punya pengharapan untuk bangkit kembali. Tuhan Yesus menunjukkan betapa jauh lebih celakanya menjadi orang yang lumpuh rohani daripada mereka yang lumpuh secara jasmani.

Tuhan luar biasa dan teramat mengasihi semua orang dengan sangat baik, kita perlu belajar hati yang sama, bangkitlah dan semangatlah untuk menjadi pemberita kebenaran Allah!

Diambil dari artikel blog Pendeta Togar Sianturi

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: 3 Alasan Mengapa Anda Tidak Mau Memiliki Pikiran Jahat