gkdi lagu

Sikap dalam merespon kesalahpahaman merupakan hal penting untuk ditumbuhkan dalam kehidupan orang beriman. Dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya orang lain salah paham terhadap kita. Ketika ucapan, tindakan, atau motivasi kita disalahartikan, tentu rasanya tidak enak. Kita mungkin merasa tidak dimengerti, atau merasa dihakimi secara sepihak.

Di sisi lain, ketika kita terluka atau tersinggung dengan perkataan atau sikap seseorang, mungkin kita cenderung membangun prasangka, bahkan lekas-lekas menghakimi orang tersebut:

“Jangan-jangan, dia sentimen terhadap saya.” 

“Dia tidak menghargai saya.”

“Dia sungguh tak punya perasaan.”

“Mulutnya tidak bisa dijaga!”

Yang jelas, dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama, kita tidak akan lepas dari yang namanya salah paham. Nah, bagaimana cara menyelesaikan kesalahpahaman menurut firman Tuhan? Sikap apa saja yang perlu kita miliki ketika ini terjadi? Mari belajar dari dua kisah di Alkitab berikut ini.

Hana vs Imam Eli

Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. – 1 Samuel 1:12 

Bagaimana perasaan Anda ketika orang lain memberikan respon negatif terhadap hal baik yang Anda lakukan? Hana mengerti bagaimana rasanya. Wanita itu sedang bersusah hati karena belum juga dikaruniai anak. Karena itu, Hana datang ke bait Allah untuk mengadu kepada Tuhan, mencurahkan kepedihan, dan menaikkan permohonannya. Namun, Imam Eli yang kala itu bertugas di sana, mengira Hana mabuk anggur! 

Manusia tidak luput dari kesalahpahaman. Bahkan, seorang imam besar seperti Eli saja bisa salah paham.

Lalu, bagaimana respon Hana?

Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.  Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” – 1 Samuel 1:14-16 

Hana tidak lantas marah atau mencak-mencak karena merasa difitnah bahwa dirinya sedang mabuk. Sebaliknya, ia menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Imam Eli dengan rendah hati dan sikap hormat.

Bagaimana sikap Anda ketika orang lain salah mengartikan ucapan atau tindakan Anda? Apakah Anda marah besar, tidak terima karena diperlakukan tidak adil, merasa berhak membela diri, dan meluruskan duduk permasalahan dengan emosi yang berkobar-kobar?

Terkadang, kita hanya perlu menjelaskan secara baik-baik keadaan kita supaya orang lain mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tanggapan penuh emosi tidak akan menyelesaikan masalah dan memberi Anda hati yang damai, tetapi justru berpotensi membuat masalah baru.

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat. – 1 Petrus 3:15

Daud vs Saul

Saul adalah raja Israel pilihan Tuhan. Namun, karena ketidakpatuhannya, akhirnya Tuhan menolak Saul dan memilih Daud sebagai raja. Kendati demikian, Daud tetap mengabdi kepada Saul. Ketika Daud selesai berperang melawan orang Filistin, para perempuan dari segenap penjuru Israel menyongsong mereka dengan nyanyian berbalasan, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”

Mendengar nyanyian tersebut, beginilah sikap Saul:

Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. – 1 Samuel 18:8-9 

Saul mulai bersikap negatif terhadap Daud, bahkan berniat membunuhnya, bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali! 

Bagaimana Daud menyikapi hal tersebut?

Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. – 1 Samuel 24:10 

Saya pribadi lebih tidak keberatan dibenci daripada disalahpahami. Ketika ini terjadi, saya merasa perlu segera mengklarifikasi pandangan-pandangan yang keliru terhadap diri saya. Seiring berjalannya waktu, saya paham bahwa saya tidak pernah bisa mengontrol respon orang lain atas diri saya. Yang lebih penting adalah bagaimana saya merespon kesalahpahaman tersebut.

Saat membaca kisah ini dan melihat cara Daud menanggapi Saul, hati saya merasa ditegur. Daud tidak membela dirinya mati-matian untuk membuktikan bahwa ia tulus dan tidak punya niat menjatuhkan Saul. Yang ia lakukan adalah menunjukkan atau membuktikan bahwa ia tidak seperti yang Saul pikirkan.

Jadi, Anda tidak perlu merasa sakit hati atau kecewa ketika orang salah memahami Anda, atau bahkan berbuat jahat terhadap Anda. Buktikan dengan perbuatan bahwa pandangan mereka tidak benar / keliru melalui tindakan Anda. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. 

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! – Roma 12:17 

Selain itu, ketika kita tahu bahwa ada orang yang salah paham dengan kita atau mendengar informasi yang tidak benar tentang kita dari orang lain, kita perlu melakukan inisiatif untuk memulai meluruskan salah paham tersebut. Jangan biarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut, karena dapat mempengaruhi banyak hal, baik emosi maupun kerohanian kita.

Salah paham itu hal yang biasa, jadi jangan terlalu diambil hati. Selama niat Anda baik, motivasi Anda tulus, mengapa harus marah ketika orang salah menilai diri Anda? Jika Anda memang perlu memberikan tanggapan, dua sikap yang benar yang Tuhan inginkan dari kita adalah:

  1. Jelaskan baik-baik keadaan yang sebenarnya dengan respek dan tidak emosional.
  2. Tunjukkan melalui tindakan Anda bahwa mereka telah salah menilai Anda.
  3. Berinisiatif untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut dan mengusahakan perdamaian diantara kalian.

Selamat mencoba! God bless!

Gereja GKDI memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di 35 kota. Jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: